Belajar dari Kasus “Asmara Gen Z”: Mengapa Anonimitas di Media Sosial Membuat Penonton Jadi Toksik?
- Pexels/cottonbro studio
Olret – Seperti kita ketahui, belakangan ini sutradara sinetron “Asmara Gen Z” yang bernama Vemmy Sagita mengalami teror di media sosial. Hal ini tentu menganggu kehidupan pribadi sang sutradara. Kejadian yang menimpa sang sutradara juga mencerminkan bahwa penonton kesulitan membedakan realitas dan fiksi.
Para pemain sinetron
- Instagram/SCTV
Meski pada awalnya, kemelekatan yang dimiliki penonton terhadap sinetron fiksi mencerminkan sisi positif, namun ketika kemelekatan itu menjadi obsesi justru menimbulkan masalah besar. Dari sisi kru produksi, mereka berhasil memikat penonton untuk mencintai karyanya, namun apapun yang berlebihan memang selalu menimbulkan masalah. Terlebih obsesi akan kehidupan fiksi yang hanya terjadi di depan layar.
Tidak bisa membedakan kehidupan nyata dan di balik layar ini justru awal masalah. Sebab, batas antara cerita fiksi dan realitas menjadi kabur. Kritik yang disebabkan ketidakpuasan alur ini tak lagi sekadar diskusi, melainkan berkembang menjadi komentar yang menyerang pihak-pihak di luar karakter fiksi. Padahal dalam sebuah cerita fiksi terutama sinetron, banyak kru yang terlibat mulai dari editor, sutradara, penulis naskah hingga aktor yang hanya menjalankan peran sesuai naskah.
Selanjutnya, fenomena ini menunjukkan satu hal penting yakni semakin jauh keterlibatan emosional konsumen (penonton), semakin besar pula resiko terjadinya reaksi berlebih. Apalagi di era media sosial, jarak antara penonton dan kru produksi sangat tipis bahkan tidak ada jarak. Sehingga ekspresi kekecewaan mudah sekali dilontarkan bahkan berubah menjadi tekanan personal.
Cyberbullying
- Pexels/Nothing Ahead
Padahal, kritik terhadap cerita adalah bagian dari dinamika industri hiburan. Namun, ketika kritik berubah menjadi serangan terhadap individu, ruang apresiasi karya justru menjadi tidak sehat. Pada akhirnya, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya bagaimana cerita dikembangkan, tetapi juga bagaimana penonton menyikapi sebuah karya. Karena sekuat apa pun emosi yang ditimbulkan oleh karakter fiksi, tetap ada orang nyata di balik layar yang bekerja untuk menghadirkan cerita tersebut.
Jurnal berjudul "On Toxic Fan Practices and The New Culture Wars " karya William Proctor dan Bridget Kies pun menyoroti bagaimana fenomena karya populer bisa menjadi medan pertempuran ideologis baru yang sengit di media sosial. Karya populer kini tak hanya dinikmati sebagai hiburan, melainkan sebagai pemicu perdebatan baru yang bahkan memiliki basis yang besar di media sosial.