Kenapa Napas Terasa Pendek Saat Sedang Cemas atau Banyak Pikiran
- https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-in-front-of-macbook-313690/
Olret – Saat sedang cemas, banyak orang tiba-tiba merasa napas menjadi pendek, dada terasa berat, atau seperti tidak mendapatkan cukup udara. Sensasi ini bisa membuat panik karena munculnya rasa sesak justru membuat pikiran semakin takut. Menariknya, dalam banyak situasi, perubahan tersebut merupakan bagian dari respons alami tubuh ketika merasa terancam.
Tubuh Masuk Mode Siaga
Ketika seseorang sedang cemas atau menghadapi tekanan, otak dapat mengaktifkan respons stres atau fight or flight. Tubuh kemudian bersiap menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman.
Denyut jantung meningkat, otot menegang, dan pola pernapasan bisa berubah menjadi lebih cepat atau dangkal. Tujuannya sebenarnya untuk mempersiapkan tubuh agar bisa bergerak lebih cepat.
Masalahnya, ketika ancaman tersebut hanya berupa pikiran atau kekhawatiran, respons fisik yang sama tetap bisa muncul. Tubuh bereaksi seolah-olah sedang menghadapi bahaya nyata, padahal tidak ada ancaman fisik di depan mata.
Napas Menjadi Lebih Cepat
Saat cemas, seseorang bisa bernapas lebih cepat tanpa menyadarinya. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan karbon dioksida lebih banyak dari biasanya.
Perubahan kadar karbon dioksida dapat menimbulkan berbagai sensasi yang terasa tidak nyaman, seperti pusing, kesemutan, dada terasa sesak, atau merasa harus menarik napas dalam-dalam.
Sensasi tersebut kemudian sering disalahartikan sebagai tanda tubuh kekurangan udara. Akibatnya, seseorang semakin berusaha menarik napas panjang. Rasa tidak nyaman pun bisa semakin terasa sehingga muncul siklus: cemas membuat napas berubah, napas terasa aneh membuat semakin cemas.
Pikiran Juga Bisa Memperkuat Sensasinya
Ketika sedang banyak pikiran, perhatian kita cenderung lebih tertuju pada berbagai sensasi tubuh. Tarikan napas yang biasanya tidak diperhatikan tiba-tiba terasa sangat jelas.
Begitu menyadari napas terasa berbeda, otak dapat langsung menafsirkannya sebagai sesuatu yang berbahaya. Padahal, sensasi tersebut bisa saja merupakan bagian dari respons stres.
Karena itu, mengurangi kecemasan juga dapat membantu mengembalikan pola pernapasan menjadi lebih teratur. Duduk dengan nyaman, melemaskan bahu, dan mencoba memperlambat napas secara perlahan dapat membantu tubuh keluar dari mode siaga.