Ilusi Kaya di Era Media Sosial: Antara Citra dan Kenyataan Finansial
- Pexels/Vitaly Gariev
Olret – Di era modern di mana media sosial menampilkan citra penggunanya, fenomena pencitraan semakin merajalela. Seseorang bisa terlihat kaya di media sosial, tetapi kenyataan finansial menunjukkan hal sebaliknya bukan hal aneh lagi. Mulai dari tas branded, liburan mewah, pernikahan glamor, hingga rumah mahal, semua itu membanjiri linimasa pengguna TikTok dan Instagram. Namun di balik tampilan tersebut, kondisi ekonomi banyak orang justru sedang tertekan akibat kenaikan biaya hidup.
Di Inggris, hampir separuh penduduk memiliki kurang dari £25 uang sisa setiap minggu seperti dilansir dari laman independent.co.uk. Dua pertiga bahkan terpaksa mengurangi kebutuhan dasar seperti makanan dan pemanas. Meski begitu, media sosial justru dipenuhi gaya hidup mewah yang sering kali tidak mencerminkan kondisi nyata penggunanya.
Penelitian menunjukkan bahwa cara orang menilai “kaya” juga telah berubah. Dalam sebuah studi pada mahasiswa di Pakistan, kekayaan tidak lagi diukur dari tabungan atau penghasilan, tetapi dari barang yang bisa dipamerkan seperti pakaian, ponsel, mobil, restoran, dan gaya hidup di media sosial. Tentunya ini berakibat pada sebagian orang merasa “harus terlihat kaya” meskipun kondisi finansialnya tidak mendukung sama sekali. Hal ini juga mendorong perilaku konsumtif berlebih yang beresiko terlilit utang, stress memikirkan keuangan dan keputusan keuangan yang buruk.
Budaya “fake it till you make it” atau berpura-pura kaya agar terlihat sukses kini berkembang dalam bentuk baru di media sosial. Beberapa kreator bahkan mengajarkan konsep manifestasi kekayaan, yaitu merasa sudah kaya sebelum benar-benar memilikinya. Namun menurut para ahli, pola pikir ini berisiko karena dapat mendorong orang membelanjakan uang di luar kemampuan mereka.
Psikoterapis finansial Vicky Reynal menyebut konten seperti ini tidak membantu dan bahkan bisa berbahaya karena mendorong “pemikiran magis” tentang uang. Menghabiskan uang untuk terlihat kaya tidak akan membuat seseorang benar-benar menjadi kaya.
Fenomena ini juga berkaitan dengan psikologi perilaku. Menurut para ahli, orang memang bisa merasa “lebih kaya” saat berbelanja, tetapi perasaan itu hanya sementara. Ketika dampak finansialnya terasa, muncul rasa bersalah dan kecemasan. Dalam konteks ini, perhatian di media sosial bahkan menjadi bentuk “mata uang” baru yang lebih dicari dibanding stabilitas finansial.