Bukan Kelihatan Kaya: Menghapus Victim Mentality dan Merajut Kekayaan Sejati

Aktor Populer Thailand yang Ulang Tahun Desember
Sumber :
  • instagram

Olret – Masalah seberat apa pun adalah ujian bagi pundakmu sendiri, cukup hadapi dan mencari solusinya, dan langitkan dalam doa. Mentalitas korban (victim mentality) hanya akan membuat kita menyalahkan lingkungan, orang tua, hingga masa lalu, tanpa pernah mengevaluasi diri sendiri.

img_title Revolusi 10 Tahun yang Mengubah Norwegia Menjadi Kekuatan Besar Piala Dunia

Kebanyakan miliarder dunia dengan kekayaan ratusan miliar justru hidup dalam kesahajaan. Riset menunjukkan 60% dari mereka setia dengan mobil bekas bermerek Toyota, Honda, atau Ford. Bagi mereka, esensi kekayaan adalah menjadi kaya, bukan terlihat kaya.

Hal ini mengingatkan kita pada doa agung untuk meminta kerajaan dunia yang megah. Kaya itu tidak berdosa, asalkan tujuannya adalah bersandar pada rida-Nya. Kekayaan sejati adalah ketika kita mampu meluaskan kebermanfaatan dan membahagiakan orang lain, bukan memupuk ego pribadi.

img_title Panduan Menua dengan Sehat: 6 Latihan Kekuatan untuk Dicoba di Rumah

Jangan sampai, di penghujung usia nanti, kita justru terjebak dalam penyesalan terdalam: mengubur perasaan dan gagal mengekspresikannya kepada orang-orang yang berarti dalam hidup kita."

Ingat doa Nabi Sulaiman? 'Ya Allah, berilah aku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku.' Beliau meminta dunia dalam genggamannya, secara literal. Artinya apa? Menjadi kaya itu sama sekali gak salah, selama tujuannya diletakkan di jalan Allah. Menjadi kaya agar kita bisa membantu lebih banyak orang, dan belajar menyenangkan orang lain ketimbang ego diri sendiri.

img_title Ilusi Kaya di Era Media Sosial: Antara Citra dan Kenyataan Finansial

Perjalanan Karier Pandeka Prakasa

Kalau menengok ke belakang, perjalanan karier dan hidup saya itu sebenarnya dibentuk oleh empat fase besar.

Pertama adalah fase victim mentality, titik terendah ketika ibu saya terdiagnosa kanker serviks hingga akhirnya berpulang. Tapi hidup harus berlanjut. Fase kedua justru menjadi salah satu momen paling membahagiakan, yaitu ketika saya hidup dengan gaji UMR. Dari sana, lompatan besar terjadi di fase ketiga saat saya memutuskan hijrah ke Singapura; di situlah saya merasa jalan hidup ini jauh dimudahkan.

Sekarang, saya berada di fase keempat. Energi saya saat ini sepenuhnya tertuju untuk mengajar orang-orang Indonesia tentang financial literacy. Saya ingin mereka tahu bagaimana cara mengelola uang dengan benar dan mulai berinvestasi di ETF—tempat di mana saya sendiri sudah menguji dan menaruh investasi saya selama belasan tahun."

Halaman Selanjutnya
img_title