Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Bisa Menurunkan Percaya Diri Anak

Ilustrasi orang tua dan anak
Sumber :
  • https://www.pexels.com/@DanikPrihodko

Olret – Percaya diri tidak muncul begitu saja. Kemampuan ini tumbuh dari pengalaman sehari-hari, terutama dari cara anak diperlakukan oleh orang-orang terdekatnya. Karena itu, peran orang tua sangat besar dalam membantu membangun atau justru tanpa sadar mengurangi rasa percaya diri anak.

img_title Kebiasaan 2 Menit yang Bisa Mengubah Hari Jadi Lebih Produktif

Menariknya, beberapa kebiasaan yang terlihat sepele ternyata dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Berikut beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan.

1. Terlalu Sering Mengkritik Kesalahan

img_title Banyak Orang Mulai Menerapkan Quiet Morning, Apa Manfaatnya?

Memberikan koreksi memang penting agar anak belajar. Namun, jika setiap kesalahan selalu disoroti tanpa diimbangi apresiasi, anak bisa merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

Misalnya, ketika anak mendapat nilai tinggi tetapi orang tua hanya fokus pada satu jawaban yang salah. Lama-kelamaan, anak akan lebih mengingat kekurangannya daripada keberhasilannya.

img_title Merasa Tubuh Kurang Fit? Coba Cek Kebiasaan Makan Sehari-hari

Anak yang sering menerima kritik berlebihan juga cenderung takut mencoba hal baru karena khawatir melakukan kesalahan lagi.

2. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kalimat seperti "Lihat kakakmu lebih rajin" atau "Temanmu kok bisa, kamu kenapa tidak?" mungkin terdengar biasa. Namun, bagi anak, perbandingan semacam ini bisa membuatnya merasa kurang berharga.

Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ketika terus dibandingkan, anak bisa menganggap bahwa dirinya tidak cukup baik apa adanya.

Daripada membandingkan dengan orang lain, lebih baik fokus pada perkembangan anak dibandingkan dirinya di masa lalu.

3. Terlalu Sering Membantu

Banyak orang tua ingin memudahkan kehidupan anak. Namun, jika semua hal selalu dibantu, anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan membuktikan kemampuannya sendiri.

Misalnya, langsung membereskan tugas yang sulit atau selalu mengambil keputusan untuk anak. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

Padahal, keberhasilan menyelesaikan tugas secara mandiri merupakan salah satu sumber utama rasa percaya diri.

4. Jarang Mendengarkan Pendapat Anak

Anak juga ingin didengar. Ketika pendapat, cerita, atau perasaannya sering diabaikan, ia bisa merasa bahwa suaranya tidak penting.

Kebiasaan memotong pembicaraan anak atau langsung menolak idenya dapat membuat anak enggan mengungkapkan pendapat di kemudian hari.

Halaman Selanjutnya
img_title