Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah - Lapas Ciamis: Warga Binaan Dibekali Keterampilan Pertanian Berkelanjutan
- AT
Ciamis, Olret – Kolaborasi antara Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ciamis dengan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Ciamis menghadirkan program pertanian berkelanjutan sebagai bekal kemandirian. Program ini menitikberatkan pada penciptaan nilai ekonomi dan kesiapan sosial warga binaan pasca menjalani masa hukuman. Melalui pendekatan berbasis praktik langsung, warga binaan dilatih mengelola sektor pertanian dari hulu ke hilir.
Kegiatan yang dilaksanakan mencakup penanaman sayuran dengan media polybag, budidaya tanaman pangan, pembibitan cabai, hingga produksi pupuk organik. Menariknya, pupuk tersebut diolah dari limbah dapur dan ampas kopi di lingkungan lapas—sebuah praktik yang tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga mengedepankan prinsip ekonomi sirkular dan kesadaran lingkungan.
Ketua PDPM Kabupaten Ciamis, Mochamad Isa Nuralamsyah, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari orientasi gerakan yang menuntut dampak nyata di tengah masyarakat. Ia menilai warga binaan memiliki potensi besar yang kerap belum tergarap secara optimal.
“Pembinaan tidak cukup berhenti pada aktivitas rutin. Yang dibutuhkan adalah keterampilan aplikatif agar mereka memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Isa sapaan akrab Mochamad Isa Nuralamsyah usai pendantangan kerjasama dengan Lapas Kelas IIB Ciamis, Selasa (5/5).
Menurutnya, sektor pertanian dipilih karena memiliki daya adaptasi tinggi serta peluang ekonomi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Selain mendukung ketahanan pangan, sektor ini juga membuka ruang usaha mandiri bagi warga binaan setelah bebas.
Apresiasi juga datang dari pihak lapas yang menilai program ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat pembinaan berbasis produktivitas. Kepala Lapas Kelas IIB Ciamis, Supriyanto, menyebut, pendekatan ini mampu menanamkan nilai tanggung jawab sekaligus kesadaran lingkungan.
“Warga binaan tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga memahami proses dan manfaatnya. Ini penting untuk membangun mental mandiri,” ungkap Supriyanto.
Dari sisi teknis, program ini dirancang bertahap dan sistematis oleh tim pelaksana yang dipimpin Rievansyah Eka Satria. Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup pendampingan berkelanjutan.
“Kami memastikan setiap materi bisa dipraktikkan langsung. Targetnya sederhana: mereka memiliki keterampilan yang siap digunakan,” jelasnya.