Revolusi 10 Tahun yang Mengubah Norwegia Menjadi Kekuatan Besar Piala Dunia
- Theguardian.com
Olret – Dalam penampilan pertama mereka di Piala Dunia setelah 28 tahun, Norwegia menorehkan kisah bak dongeng dengan melaju hingga perempat final. Di balik keberhasilan itu bukan hanya sosok Erling Haaland atau Martin Odegaard, melainkan sebuah revolusi yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
"Mendobrak pakem" bagi Martin Odegaard dan sebuah revolusi yang telah dirintis selama lebih dari satu dekade
Martin Odegaard
- getty image
Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, Norwegia kembali ke panggung Piala Dunia dan langsung mencetak sejarah dengan mengalahkan Brasil untuk melaju ke perempat final. Pencapaian ini bukanlah hasil dari munculnya "generasi emas" secara kebetulan, melainkan buah dari strategi pengembangan yang telah dimulai sejak lebih dari satu dekade yang lalu.
Salah satu sosok penting di balik perjalanan tersebut—yang kiprahnya mungkin jarang mendapat sorotan—adalah Håkon Grøttland, yang menjabat sebagai Kepala Pengembangan Pemain di Federasi Sepak Bola Norwegia sejak tahun 2013. Dialah orang pertama yang melihat potensi Martin Ødegaard saat sang gelandang baru berusia 11 tahun, dan kemudian merancang model pengembangan pemain muda yang revolusioner.
Kasus Ødegaard tergolong istimewa hingga membuat Federasi Sepak Bola Norwegia memutuskan untuk melonggarkan aturan yang telah lama berlaku. Berdasarkan aturan lama, pemain muda tidak dapat direkrut sebelum menginjak usia 12 tahun, namun Ødegaard menjadi satu-satunya pengecualian.
Grøttland menegaskan: "Selama 15 tahun saya bekerja di federasi, Ødegaard adalah satu-satunya pemain yang kami yakini sejak awal akan menjadi pemain tim nasional. Dia adalah sosok jenius yang mampu melihat ruang dan solusi yang bahkan tidak terpikirkan oleh para pelatih."
Berinvestasi dari lapangan hingga akademi: Menciptakan generasi emas sepak bola Norwegia
Berlandaskan fondasi yang terbentuk setelah kemunculan Martin Ødegaard, Norwegia mengembangkan sistem *Landslagsskolen* (NTS – Sekolah Tim Nasional). Hampir seluruh dari 26 pemain dalam skuad asuhan pelatih kepala Ståle Solbakken—yang berhasil mencapai perempat final Piala Dunia—mengembangkan kemampuan mereka melalui sistem ini.
Model NTS mengharuskan pemain berkompetisi untuk klub lokal hingga usia 12 tahun; pada titik itulah bakat-bakat paling menonjol diintegrasikan ke dalam sistem pelatihan nasional. Sembari tetap bermain untuk klub asal mereka, para pemain ini mendapatkan akses ke pelatih papan atas dan kurikulum nasional yang terstandarisasi, sebelum akhirnya pindah ke akademi klub-klub besar saat menginjak usia sekitar 15 tahun.
Bersamaan dengan itu, investasi besar-besaran juga dilakukan pada sektor infrastruktur. Hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun, Norwegia membangun 539 lapangan rumput sintetis baru dan merenovasi 586 lapangan lainnya, sehingga anak-anak dapat bermain sepak bola sepanjang tahun tanpa terpengaruh kondisi cuaca.