Part 2 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

alasan mendaki gunung merbabu
Sumber :
  • https://ngayap.com/

Olret – Untuk cerita sebelumnya kamu bisa baca di Part 1 : Teror Pasangan Pendaki Mistis di Gunung Ciremai

Kita akan melanjutkan kisah teror pasangan pendaki mistis di gunung ciremai ini.

Aku terbangun di pos Cibunar. Bingung dan disorientasi. Sampai aku tersadar lagi, kejadian tadi malam bukan mimpi, badanku kembali gemetar. Beberapa orang diruangan itu menyadari aku sudah terbangun, langsung menghampiri.

Yang satu memberikanku teh panas manis yang saat kuminum langsung membuatku merasa tenang lagi. Yang satunya duduk disebelahku sambil mengusap-usap punggungku. 

“Diminum pelan-pelan aja teh nya Jang.” Kata si Bapak itu.  Aku memperhatikan seluruh ruangan, masih belum yakin kalau aku sudah tertolong. “Pak, teman saya?” aku menanyakan keberadaan Ayu. Tidak adanya Ayu disitu langsung membuatku terserang panik. “ada di ruangan sebelah. Tidak apa-apa.”

Aku lalu menceritakan semua kejadian yang kami alami sampai akhirnya kami pingsan. Bapak itu mendengarkan dengan tenang tidak nampak terkejut sama sekali. Asap rokok sesekali mengepul dari bibirnya. Semua yang kuingat kuceritakan, kecuali kejadian Ayu membuang pembalutnya di semak. Selain takut, ada rasa malu karena telah mengotori gunung.

“kunaon bisa sampe begitu?” kata si Bapak,”kejadian gaib memang sering disini, tapi saya teh baru denger yang sampe parah begini.” “saya juga ngga tahu pak.” Jawab saya berbohong.

Bapak itu menatap lurus ke mataku seperti berusaha membaca, dia lalu bertanya,”punten nya jang, punten, bapak cuma nanya, kalian diatas zinah?” Aku gelagapan ditanya seperti itu. “Astagfirullah ngga pak. Saya sama Ayu cuma temen. Kita juga bawa tenda masing-masing.” Bapak itu masih menatapku dengan pandangan tidak yakin.

Tapi memang itu kenyataannya. Aku dan Ayu sepakat untuk tidur ditenda masing-masing. Ayu membawa tenda satu orang yang sering kuejek sebagai tenda orang mati. Dan aku membawa tarp tent yang baru kubeli sebelum berangkat. Kami memang akrab, tapi keakraban kami sama sekali tidak mengarah kearah romantis.

“ya sudah, kamu istirahat dulu sebentar. Nanti ada yang datang bawa lauk dari bawah, kamu langsung makan ya. Diisi perutnya.”kata si Bapak. Aku mengangguk. “terima kasih pak.”