Dari 5-1 Menjadi 1-5: Mengapa Swedia Runtuh Begitu Cepat Melawan Belanda?
- thethao247.vn
Olret – Swedia memasuki pertandingan melawan Belanda dengan penuh percaya diri setelah kemenangan 5-1 atas Tunisia. Namun, setelah hanya 17 menit, semuanya runtuh terlalu cepat.
Dua gol cepat, ditambah dengan tekanan konstan dari lini pertahanan Belanda di sisi sayap, mengubah Swedia dari tim yang sebelumnya menang dengan meyakinkan menjadi tim yang menderita kekalahan 1-5.
Dua gol menghancurkan jalannya pertandingan.
Brian Brobbey mencetak gol pada menit ke-5, kemudian mencetak gol lagi pada menit ke-17. Selisih 12 menit itu merusak rencana awal Swedia. Tertinggal 0-2 begitu cepat, tim Graham Potter tidak dapat mempertahankan formasi awal mereka.
Lini tengah terpaksa maju lebih tinggi untuk mencari gol, sementara pertahanan kekurangan kecepatan dan perlindungan. Belanda segera menemukan ruang untuk menyerang dari sayap dan memasukkan bola ke area penalti sejak awal.
Sisi sayap menjadi buntu.
Belanda memilih serangan langsung, membuka permainan ke sayap dan kemudian mengoper bola ke area di antara bek tengah dan bek sayap Swedia. Di sinilah pertahanan Swedia sangat lemah.
Para bek berbaju kuning berulang kali keluar dari posisi mereka, gagal menutup pergerakan pengumpan dengan cepat dan tidak menjaga ketat penerima umpan di area penalti. Gol-gol Brobbey semuanya menyoroti kelemahan dalam penempatan posisi dan penjagaan man-to-man.
Sundulan di babak kedua
Setelah jeda, Swedia perlu bertahan untuk menjaga harapan mereka tetap hidup. Tetapi mereka kebobolan pada menit ke-47 ketika Cody Gakpo memanfaatkan umpan silang berbahaya dari sayap kanan.
Gol itu hampir memadamkan harapan untuk melakukan comeback. Pada menit ke-54, Gakpo mencetak gol lagi, membuat permainan di luar kendali Swedia. Dari 0-2 menjadi 0-4 hanya dalam waktu lebih dari setengah pertandingan, masalahnya bukan lagi kesalahan individu tunggal tetapi kegagalan berulang dari seluruh sistem pertahanan.
Peluang berlimpah, hanya kepastian yang kurang.
Swedia tidak sepenuhnya runtuh. Mereka masih berhasil memberi tekanan pada Belanda di beberapa kesempatan, dengan 8 tembakan tepat sasaran, satu lebih banyak dari lawan mereka.
Di babak pertama saja, tim Graham Potter memiliki 9 tembakan, sementara Belanda hanya memiliki 5. Tetapi sepak bola bukan hanya tentang jumlah peluang yang diciptakan. Perbedaan terbesar terjadi di kedua area penalti: Belanda memanfaatkan peluang mereka lebih efektif, sementara pertahanan Swedia terlalu terbuka di momen-momen krusial.