Bukan Anak yang Nakal, Tapi Sedang Butuh Perhatian Lebih

anak tantrum di mall
Sumber :
  • pinterest

Olret – Label “nakal” sering jadi reaksi cepat saat anak mulai sulit diatur. Mulai teriak, membantah, atau sengaja melakukan hal yang dilarang. Padahal, di balik perilaku itu, sering kali ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Bukan soal anak ingin bikin masalah, tapi ia sedang berusaha “bicara” dengan caranya sendiri.

Perilaku Anak Sebagai Bentuk Komunikasi

Anak, terutama di usia balita hingga sekolah dasar, belum punya kemampuan penuh untuk mengekspresikan emosi secara jelas. Ketika mereka merasa kesepian, cemburu, lelah, atau kurang diperhatikan, perilaku jadi bahasa paling mudah. Sayangnya, yang terlihat oleh orang tua hanya “ulahnya”, bukan pesan di baliknya.

Kurangnya Koneksi Emosional

Salah satu penyebab paling umum adalah kurangnya koneksi emosional. Bukan berarti orang tua tidak sayang, tapi di tengah kesibukan, perhatian sering jadi terbagi. Anak yang merasa kurang “terlihat” akan mencari cara agar diperhatikan bahkan jika caranya adalah dengan berperilaku negatif. Bagi mereka, dimarahi tetap terasa lebih baik daripada diabaikan.

Perubahan yang Membuat Anak Tidak Nyaman

Perubahan dalam kehidupan anak juga bisa memicu perilaku yang dianggap nakal. Misalnya, kelahiran adik baru, pindah rumah, mulai sekolah, atau perubahan rutinitas. Hal-hal ini bisa membuat anak merasa tidak aman. Karena belum bisa menjelaskan perasaannya, mereka menunjukkannya lewat tindakan.

Kelelahan dan Overstimulasi

Faktor lain yang sering luput adalah kelelahan dan overstimulasi. Anak yang kurang tidur atau terlalu banyak aktivitas justru lebih mudah rewel, sensitif, dan sulit diatur. Dalam kondisi ini, mereka bukan sengaja melawan, tapi memang sedang kewalahan.

Ubah Cara Pandang, Bukan Langsung Menghakimi

Alih-alih langsung memberi label “nakal”, coba tanyakan dalam hati, “Anak ini sebenarnya lagi butuh apa?” Pendekatan ini membantu orang tua lebih tenang dan tidak reaktif saat menghadapi anak.

Bangun Koneksi Emosional Setiap Hari

Luangkan waktu khusus setiap hari, meski hanya 10–15 menit, untuk benar-benar hadir bersama anak tanpa distraksi. Hal sederhana seperti bermain, mendengarkan cerita, atau sekadar memeluk bisa membuat anak merasa lebih aman dan dihargai.