Kisah Nyata (Part 4): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

Gunung Slamet
Sumber :
  • instagram

OlretKuntilanak itu kini mengikuti sepanjang perjalanan kami, walau saya tidak melihatnya, tapi saya dapat merasakan bahwa kuntilanak tersebut mengamati kami sejak tadi yang di ada di Kisah Nyata (Part 3): Angkernya Jalur Dukuh Liwung Gunung Slamet

*

“Emang lo ga bilang permisi?” tanya ku pada Panji pagi itu. Kini hari telah berganti, cahaya bulan yang redup semalam sudah berubah menjadi terangnya sinar matahari. Sosok jadi jadian pun entah kemana, mungkin kini mereka telah pergi. “Enggak sih Na, tapi gua udah bilang Asslamualaikum.”

Mendengar jawaban itu saya pun bingung, harus berkomentar apa. Sejenak saya berpikir, ‘iya, apa salahnya, kan sudah mengucap salam’. Tapi mungkin memang tetap dianggap tidak sopan, ibaratnya kita main kerumah orang lain, hanya mengucap salam, lalu pergi ke kamar mandi tanpa bilang permisi, pastinya sangat tidak sopan.

Tapi sudahlah, semoga hal ini tidak terulang lagi, dan bisa jadi pembelajaran kami kedepannya.

Setelah sarapan dan memastikan perbekalan air yang cukup, kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Pendaki lain yang semalam bersama kami, sudah lebih dulu melanjutkan pendakian mereka.

“Okeghhh.. siap ya? ber doa dulu, semoga disehat selamatkan perjalanan kita dipendakian kali ini, kita bisa kembali kerumah masing-masing dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa kekurangan suatu apapun, ber doa dimulai.” Ucap Fahmi memimpin doa pagi ini. “Aamiin!!” seru kami, seraya benar-benar memohon perlindungan Allah SWT.