Kenapa Anak Lebih Rewel Saat Bersama Ibunya? Ini Penjelasannya
- https://www.pexels.com/@gustavo-fring
Olret – Ada satu hal yang sering membuat banyak ibu bertanya-tanya. Saat bersama ayah, kakek-nenek, atau pengasuh, anak terlihat anteng dan mudah diajak bekerja sama. Namun, begitu bertemu ibu, suasananya bisa berubah dalam hitungan menit. Anak mulai merengek, mudah menangis, ingin digendong terus, bahkan menjadi lebih sensitif.
Sekilas, kondisi ini mungkin membuat ibu merasa sedih atau berpikir bahwa dirinya kurang mampu menenangkan anak. Padahal, menurut para ahli perkembangan anak, justru sebaliknya. Anak yang lebih rewel saat bersama ibunya sering kali menunjukkan bahwa ia merasa paling aman untuk mengekspresikan emosinya.
Ibu Adalah Tempat Paling Aman bagi Anak
Sejak lahir, anak membangun ikatan emosional dengan orang yang paling sering merawatnya. Pada banyak keluarga, sosok tersebut adalah ibu. Ikatan yang kuat ini membuat anak merasa diterima apa adanya, termasuk saat sedang lelah, kecewa, kesal, atau sedih.
Di hadapan orang lain, anak mungkin berusaha menahan emosinya. Namun ketika bertemu ibu, ia merasa tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Semua perasaan yang selama ini ditahan akhirnya keluar dalam bentuk tangisan, rengekan, atau sikap yang lebih manja.
Jadi, kerewelan bukan selalu tanda anak sulit diatur. Bisa jadi, itu adalah cara anak menunjukkan bahwa ia merasa berada di tempat yang paling nyaman.
Anak Juga Bisa Lelah Secara Emosional
Orang dewasa sering merasa lega setelah pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Setelah seharian bekerja atau beraktivitas, rumah menjadi tempat untuk melepas penat.
Anak pun mengalami hal yang sama. Selama di sekolah, tempat bermain, atau penitipan, mereka belajar mengikuti aturan, bergantian bermain, mendengarkan guru, dan mengendalikan emosinya. Semua itu membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Ketika akhirnya bertemu ibu, anak seperti melepaskan semua beban emosinya. Tak heran jika ia menjadi lebih rewel sesaat setelah dijemput atau ketika ibu pulang bekerja.
Kemampuan Mengelola Emosi Belum Matang
Balita belum memiliki kemampuan mengelola emosi seperti orang dewasa. Bagian otak yang mengatur kontrol diri masih berkembang hingga bertahun-tahun kemudian.