Koordinator Daerah BEM Nusantara Sulbar Merespon Seruan aksi BEM Universitas Wallacea

Koordinator Daerah BEM Nusantara Sulbar
Sumber :
  • Dok.Algifari

Olret –Menyikapi problem sikap Civitas Akdemika Univ Wallacea yang bersikap cuek merespon aspirasi mahasiswa sebagai salah satu aspek penting dari evolusi adalah keterlibatan yang semakin besar dari mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan kampus. Namun, sayangnya, tidak semua institusi pendidikan tinggi mengadopsi sikap terbuka dan inklusif terhadap mahasiswa.

Sebagai Bentuk Dukungan Terhadap Sesama, BEM Nusantara Berbagi

Terkait dengan hal tersebut, Algifari selaku koordinator Daerah BEM Nusantara Sulbar, turut memberikan respon

“Komitmen yang harus dibangun oleh semua Perguruan Tinggi adalah transparansi dan keterbukaan yang mencakup semua aspek kehidupan kampus, termasuk pengambilan Keputusan," ujar Algifari. 

Kegiatan Tabligh Akbar dengan Tema "Damai Indonesiaku" oleh PW Muhammadiyah Sulbar

Dia juga menambahkan, "sebagai institusi pendidikan yang bertanggung jawab, kita harus mengakui pentingnya mendengarkan suara mahasiswa dan memberikan platform yang memadai bagi mereka untuk menyampaikan ide, masukan, dan kekhawatiran mereka. Kampus ini harus menjadi lingkungan yang mendukung pertukaran gagasan dan kolaborasi antara semua anggota komunitas akademik," lanjutnya. 

Di mana sebelumnya diketahui bahwa pihak kampus dalam hal ini Civitas Akademika Universitas Wallacea Mamuju sampai saat ini tidak pernah memberikan sikap yang jelas untuk merespon segala aspirasi dari mahasiswa.

Diduga Oknum BEM UNY : Gue Sebar Foto Telanjang Lo, Gue..

Algifari pun mengatakan bahwa, “dalam sebuah institusi pendidikan tinggi, mahasiswa tidak hanya merupakan konsumen layanan pendidikan, tetapi juga merupakan mitra dalam proses pembelajaran dan pengembangan kampus secara keseluruhan dan sungguh akan sangat disayangkan bila keterbukaan dan partisipasi mahasiswa diabaikan begitu saja,” ungkapnya. 

“Keterbukaan yang kurang ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara mahasiswa dan pihak Kampus, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan intelektual, emosional, dan sosial mahasiswa. Mahasiswa memiliki pemahaman yang unik tentang kebutuhan dan aspirasi mereka sendiri, dan penolakan untuk melibatkan mereka secara aktif dalam proses pengambilan keputusan adalah tanda ketidakpedulian terhadap kontribusi mereka dalam pembentukan komunitas akademik mahasiswa harus diberi ruang seterbuka mungkin," pungkasnya.