Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?

Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang
Sumber :
  • youtube

Olret – Sebuah kesunyian pernah menyapu sebuah peradaban. Bukan karena perang, bukan karena wabah, tetapi karena sebuah dosa yang dianggap terlalu kecil untuk ditakuti. Di pesisir utara dekat teluk yang tenang, berdirilah sebuah kampung nelayan yang hidup makmur.

img_title Memahami Klasifikasi Hukum

Laut seolah tunduk pada mereka. Namun setiap hari Sabtu, sesuatu yang aneh terjadi. Ikan-ikan muncul berdesakan di permukaan air seolah sedang memancing keserakahan manusia.

Lalu suatu malam dari kegelapan, sebuah bisikan lahir: 'Pasang jaringnya sekarang, biarkan satu hari, besok kita ambil hasilnya.' Tawa licik pecah. Mereka yakin telah menemukan cara untuk mengakali perintah Tuhan. Namun ketika fajar tiba, jeritan aneh mulai menggema dari rumah-rumah mereka.

img_title Iran Klaim Telah Menargetkan Pangkalan Udara AS

Apakah ini kutukan atau sekadar cermin dari apa yang selama ini tersembunyi di dalam dada? Inilah kronik Ashabus Sabt, kaum yang mengira perintah Tuhan bisa dilanggar dengan tipu daya logika. Mari kita bongkar kegelapannya sesuai dengan pembacahasan akun Youtube Noor Occulta.

Dahulu, jauh sebelum kabut azab menyelimuti pesisir utara, ada sebuah bayangan besar yang menaungi Bani Israel. Bayangan itu tidak lahir dari kegelapan, ia lahir dari keadilan. Namanya ialah Daud Alaihissalam.

img_title Beriman Itu Pilihan Atau Ditakdirkan? Begini Penjelasan Ustaz Nur Fajri Romadhon

Ia bukan sekadar raja di singgahsana Al-Quds, ia adalah suara hati nurani zamannya. Setiap kali angin berembus di bukit Yerusalem, orang-orang mendengar gema merdu dari langit.

Bacaan Zaburnya membuat gunung bergetar dan burung-burung berhenti mengepakkan sayap, seolah semesta menahan napas agar tak melewatkan satu huruf pun dari lisan dan suaranya yang indah. Tangan yang memegang tampuk kerajaan itu adalah tangan yang sama yang menempa. Ia memerintah dengan kekuatan namun tunduk dengan kerendahan jiwa.

Namun jauh dari pusat kemuliaan itu, di selatan Al-Quds, di lekukan Teluk Aqaba yang gersang dan terpencil, berdirilah sebuah desa nelayan yang sunyi. Jarak membentang jauh, tidak hanya dalam ukuran langkah kaki tapi juga dalam ukuran hati.

Mereka adalah kaum Daud, rakyat dari kerajaan yang sama, namun hati mereka mulai menjauh dari getaran Zabur. Sebuah wasiat suci dari zaman Nabi Musa Alaihissalam masih mereka pegang: 'Janganlah kalian bekerja pada hari Sabtu. Hari itu milik Allah.' Mereka berjanji untuk patuh. Namun janji seperti jala yang terlalu lama direndam air asin, perlahan bisa melapuk.

Lautan di sana mulai membisu. Setiap kali mereka menebar jala di hari biasa, laut seolah pelit. Ikan menjauh, perut mulai lapar, dan kesabaran mulai menipis. Hingga suatu pagi, suasana berubah. Sebuah keajaiban datang, namun ia tidak membawa berkah, ia membawa fitnah.

Laut yang biasanya kikir tiba-tiba meledak dalam kehidupan. Fajar belum sempurna merekah ketika suara itu terdengar. Bukan debur ombak biasa, melainkan suara air yang menggelembung oleh gerak. Para nelayan menyaksikan pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.

Ikan-ikan muncul berdesakan melompat-lompat ke udara seolah menggoda perahu-perahu yang sedang tertambat rapat. Sisik-sisik mereka menangkap cahaya pagi berkilauan seperti koin perak yang berhamburan. Anehnya, fenomena ini hanya terjadi di hari Sabtu, tepat di hari tangan mereka diharamkan untuk menyentuh air.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan momen ini dalam Al-Quran: 'Ketika datang kepada mereka ikan-ikan pada hari Sabtu terapung-apung di permukaan air, dan pada hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.' (Quran Surah Al-A'raf ayat 163). Allah berfirman: 'Kami menguji mereka.' Ini bukan siklus alam, ini adalah panggung yang dipasang oleh sang sutradara semesta untuk melihat siapa yang bertahan di atas prinsip dan siapa yang jatuh ke dalam lumpur keinginannya sendiri.

Di tepi pantai, hati manusia mulai terbelah. Ada yang menangis karena menyadari ini adalah jebakan yang dibungkus keindahan. Mereka berbisik lirih: 'Ya Allah, selamatkanlah kami dari hari ini.' Namun bagi mereka yang hatinya mulai retak, mata mereka tidak lagi melihat ujian.

Mereka melihat harta bersisik nan menggoda. Hari Jumat sepi, hari Ahad hampa. Hanya di hari Sabtu laut berubah menjadi perjamuan agung yang terlarang. Ikan-ikan itu seolah berbisik di telinga mereka yang lapar: 'Kami di sini hanya hari ini, ambillah.' Dan di titik inilah sebuah pertanyaan licik mulai merayap dari bibir-bibir yang gemetar: 'Bagaimana jika kita tidak menangkapnya hari ini tapi hanya mempersiapkan jalannya?'

Manusia adalah makhluk yang mahir merasionalisasi dosa. Ketika keinginan membesar dan rasa takut mengecil, akal tidak lagi berfungsi untuk memahami perintah. Ia berubah menjadi alat untuk membungkus larangan agar tampak masuk akal, agar tampak indah. Malam Sabtu tiba, bulan menggantung rendah di atas teluk.

Ombak nyaris tak bersuara, udara dingin menusuk tulang. Di atas pasir yang basah, bayang-bayang mulai bergerak dalam sunyi. Bukan perompak, hanya nelayan. Wajah-wajah yang sama yang dulu berdiri khusyuk di hari Sabtu, kini di bawah selimut malam jaring-jaring yang seharusnya terlipat rapi mulai diturunkan ke air.

Dari kegelapan itu, sebuah bisikan menyebar dari celah-celah jiwa yang telah dimasuki setan: 'Siapa bilang kita melanggar? Kita pasang sekarang, hari Sabtu kita diam tidak menyentuh apapun, hari Ahad pagi kita pungut hasilnya. Malam ini kita hanya mempersiapkannya saja.'

Dengarkan baik-baik kalimat itu. Terdengar polos, hampir seperti logika yang jujur. Tapi racun selalu dibungkus madu. Di sepanjang pesisir, kolam-kolam perangkap mulai digali. Jaring dibentangkan sebelum fajar Sabtu menyingsing, lalu sepanjang hari yang diharamkan, rumah-rumah sunyi.

Tidak ada yang menyentuh air, tidak ada yang mengangkat jala. Sementara itu di bawah permukaan, ikan-ikan yang muncul dalam kelimpahan terlarang mulai terperangkap, meronta, menggelepar, tapi tidak satu tangan pun menyentuh. Secara teknis, aturan tak dilanggar. Inilah logika busuk yang berselimut syariat.

Hari Ahad menjelma. Pantai yang kemarin lengang kini riuh oleh pasar. Ikan segar bertumpuk di keranjang. Timbangan sibuk bekerja. Koin-koin berdenting jatuh ke kantong kulit. Gelak tawa kemenangan menggema di sudut-sudut lorong. Rasanya seperti menaklukkan sistem.

Seperti menemukan celah dalam hukum Tuhan. Sebuah loophole suci yang membuat kaya tanpa perlu merasa berdosa. Orang-orang mulai menyebut si pelaku pertama pintar, cerdik, tajam. Mereka yang semula ragu kini ikut menurunkan jaring di malam Sabtu berikutnya. Kecemburuan lebih menular daripada wabah. Padahal apa yang terjadi di pesisir itu persis seperti peringatan Rasulullah SAW berabad-abad kemudian: 'Janganlah kalian melakukan seperti yang dilakukan kaum Yahudi sehingga kalian menghalalkan apa yang diharamkan Allah dengan tipu daya yang paling ringan.'

Jaring yang diturunkan malam itu tidak sedang menjerat ikan, ia menjerat murka. Dan di kedalaman langit, di keheningan Al-Quds yang jauh di utara, doa Nabi Daud Alaihissalam mulai terangkai dan bergerak. Tapi telinga-telinga di pesisir belum mendengarnya. Mereka masih sibuk menghitung koin, masih sibuk mencuci jaring dari lumut dosa yang dikira tak pernah ada. Tak seorang pun menyadari bahwa jaring itu tidak hanya memerangkap ikan, ia memerangkap jiwa-jiwa yang memasangnya.

Sebuah komunitas jarang runtuh hanya karena tangan-tangan yang berbuat maksiat. Ia runtuh karena diamnya orang-orang baik. Di kampung nelayan itu, dosa tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan terang-terangan di pasar, mengepulkan asap dari wajan penggorengan, dan berdenting dalam kantung-kantung koin yang berpindah tangan. Di tengah riuh rendah itulah Al-Quran merekam sebuah perpecahan yang tak terelakkan. Surah Al-A'raf ayat 164 mengabadikan tiga wajah dari satu tanah yang sama.

Wajah pertama: para pelaku. Tangan-tangan yang basah oleh air laut di hari terlarang, rumah-rumah yang sesak oleh tumpukan ikan haram, mulut-mulut yang penuh tawa dan kunyahan. Kekayaan datang begitu cepat, begitu memabukkan. Hingga suara nasihat dianggap tak lebih dari lalat yang hinggap di atas hidangan pesta. Cukup diusir dengan kibasan tangan lalu diacuhkan. Gumam nelayan di sela transaksi: 'Kami tidak melanggar apapun. Ini namanya cerdik bukan dosa. Dasar bodoh.'

Wajah kedua: para penasihat. Inilah sisa-sisa keimanan yang masih menyala di tengah badai. Langkah kaki terus menyusuri lorong pasar. Suara lantang mencoba menembus gemerincing koin dan desis minyak panas: 'Celakalah kalian! Jangan memperdaya Allah. Jaring yang kalian pasang bukan menjerat ikan, ia menjerat jiwa kalian sendiri. Apakah kalian lupa dengan larangan pada hari Sabtu itu?' Tapi siapa yang mendengar? Pasar terlalu bising, perut terlalu kenyang, hati terlalu keras. Suara kebenaran ini dianggap pengganggu suasana, sebuah nada sumbang di tengah orkestra kemakmuran.

Wajah ketiga: kaum yang memilih diam. Inilah kelompok yang paling berbahaya. Sosok-sosok ini tidak ikut memancing, tidak ikut menjual. Mungkin rukuk dan sujudnya masih terjaga di sudut rumah. Namun mulut terkunci rapat. Jendela ditutup, mata memalingkan diri. Ketika para penasihat berjalan lelah dari pintu ke pintu, suara lain justru datang dari kelompok ini. Bukan untuk mendukung perjuangan melainkan untuk meredam: 'Mengapa kalian menasihati kaum yang akan dibinasakan?' Sebuah pertanyaan yang lahir dari keputusasaan atau mungkin kemalasan. Kelompok ini memandang para pelaku maksiat justru menyerah: 'Sudah terlambat, mereka pasti binasa. Buang-buang waktu saja.'

Namun para penasihat menjawab dengan kalimat yang menjadi warisan bagi seluruh umat hingga hari kiamat: 'Agar kami memiliki alasan di hadapan Tuhanmu dan mudah-mudahan mereka bertakwa.' Suara kebenaran tidak berhenti bukan hanya demi menyelamatkan para pendosa. Penasihat itu bersuara untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari satu pertanyaan yang kelak mengguncang langit: 'Mengapa engkau diam ketika kemungkaran terjadi di depan matamu?'

Kini tiga wajah telah menampakkan diri. Para pelaku yang tertawa, para penasihat yang berteriak, dan para pendiam yang menutup jendela. Malam terus berjalan, bulan berganti. Ikan-ikan Sabtu masih muncul dalam kelimpahan yang sama. Malam itu pesta masih berlangsung. Ikan-ikan yang katanya hasil kecerdikan tersaji di atas meja.

Dagingnya yang putih mengepulkan uap ke udara dingin. Gelak tawa membelah malam berbaur dengan denting koin dan kunyahan rakus manusia. Di sudut-sudut rumah, anak-anak tertidur dengan perut kenyang.

Kenyang oleh sesuatu yang selama ini diharamkan. Dan jauh di sana, lisan Daud Alaihissalam telah menggetarkan langit dengan doa yang berat untuk jiwa-jiwa yang telah melampaui batas dengan kepala tegak dan dada membusung. Langit kini hanya menunggu waktu. Belum ada yang menyadari bahwa fajar terakhir bagi kampung nelayan itu akan segera tiba.

Seiring berjalannya waktu, langit mengamini. Surah Al-Baqarah ayat 65 dan Al-A'raf ayat 166 merekam keputusan yang tak dapat diganggu gugat: 'Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: 'Jadilah kalian kera yang hina.' (Quran Surah Al-A'raf ayat 166). Fajar pun menyingsing, namun matahari terbit dengan cahaya yang ganjil, redup kelabu seolah ikut menahan malu atas apa yang akan disaksikannya.

Para penasihat yang selamat, kelompok yang telah memisahkan diri dan tinggal di bukit-bukit sekitar, mulai melangkah turun menuju perkampungan. Langkah kaki terasa berat, ada sesuatu yang mencekam di udara pagi itu. Tidak ada suara manusia, tidak ada asap dapur yang mengepul.

Tidak ada tawa anak-anak yang biasanya berlarian di pasir. Hanya ada lolongan panjang yang memekikkan telinga. Lolongan yang bukan berasal dari tenggorokan manusia. Satu per satu pintu rumah didorong. Dan apa yang tersingkap di baliknya bukan lagi wajah-wajah yang dikenal.

Jemari telah memendek menjadi cakar yang kasar. Kulit yang dulu dibasuh air kini ditumbuhi bulu kusam yang menjijikkan. Postur tubuh membungkuk seolah beban dosa telah meremukkan tulang punggung hingga penderitanya harus merangkak. Mata-mata itu kosong.

Tidak ada lagi akal di sana, hanya insting binatang yang baru lahir dari para kera. Para penasihat mulai bertanya-tanya mengenali sosok-sosok di depannya: 'Bukankah itu paman yang dulu mengajariku menambal jala? Oh tidak, itu adalah tetangga yang sering berbagi roti.' Yang lain berkata: 'Itu adalah saudara yang tertawa bersamaku di malam-malam panjang.' Ketika nama-nama itu dipanggil dengan air mata yang mengalir, yang keluar dari kerongkongan makhluk-makhluk itu hanyalah erangan pilu.

Binatang tidak bisa lagi menjawab, sedangkan mata-mata itu tetap kosong. Tapi erangan pilu kini berpadu dengan isak tangis seluruh penduduk kampung. Tangis yang tahu bahwa di dalam raga binatang itu terpenjara jiwa-jiwa yang mereka cintai. Penyesalan perlahan mulai bergerak di antara jari-jemari berbulu dan hati yang luluh lantak.

Sebuah bahasa bisu yang hanya bisa diterjemahkan dan diungkapkan dengan air mata. Riwayat menyebutkan wujud hina itu hanya bertahan tiga hari. Tiga hari mereka merangkak di antara rumah-rumah yang dulu menjadi saksi logika busuk. Tiga hari menjadi tontonan semesta, peringatan berjalan bagi siapapun yang menyaksikan. Lalu mati tanpa keturunan, tanpa pusara yang dikenang, hilang ditelan bumi yang sama yang dulu menyaksikan jaring-jaring terlarang diturunkan.

Muncul sebuah pertanyaan yang menghantui sejarah: Apakah ini kutukan yang tiba-tiba jatuh dari langit ataukah ini sekadar cermin jiwa yang akhirnya disingkapkan? Bukankah selama ini perilaku penduduk itu sudah menyerupai kera? Rakus mengambil apa yang bukan haknya, meniru-niru kebenaran dengan tipu daya, dan kehilangan rasa malu.

Allah tidak menciptakan sesuatu yang baru di pagi itu, Dia hanya menyingkap tirai jati diri yang selama ini tersembunyi di dalam dada. Raga yang membungkuk adalah potret roh yang telah lama merangkak. Lolongan itu adalah suara hati yang telah lama membisu dari kebenaran. Fajar itu menjadi saksi bahwa kehancuran sebuah peradaban dimulai ketika manusia merasa lebih cerdik daripada penciptanya. Dan pelajaran itu kini menggantung di cakrawala sejarah menunggu siapa yang berani menatapnya tanpa berkedip.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menutup kisah ini dengan sebuah ayat yang menggantung di langit sejarah, abadi dan tak lapuk dimakan zaman: 'Maka Kami jadikan yang demikian itu sebagai peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.' (Quran Surah Al-Baqarah ayat 66).

Kisah Ashabus Sabt bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah cermin tanpa rupa yang dipasang oleh Sang Pencipta di sepanjang lorong waktu dan zaman. Cermin yang tidak menampilkan wajah melainkan menampilkan isi dada. Hari ini, di pesisir Teluk Aqaba, laut masih berdebur dengan tenang. Angin masih menyapu pasir yang sama, perahu-perahu nelayan masih berlalu lalang seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Tapi bagi siapapun yang mendengar dan membaca kisah ini dengan mata hati, pesisir itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ia berbisik, ia memperingatkan, ia bertanya: 'Apa yang berubah dari manusia sejak ribuan tahun lalu?'

Ikan-ikan Sabtu mungkin tak lagi muncul di permukaan air di hari yang diharamkan. Tapi bukankah godaan itu kini menjelma dalam bentuk yang lain? Sebuah notifikasi di layar ponsel: 'Pinjaman cepat bunga ringan, cukup KTP.' Sebuah akad yang dibungkus istilah asing: 'Biaya administrasi, bukan bunga.'

Sebuah timbangan digital yang diatur ulang: 'Hanya selisih beberapa gram, ah tidak terasa, tidak ada yang tahu.' Setiap kali lisan berbisik: 'Aku kan tidak langsung melakukannya, aku hanya membantu prosesnya saja.' Sesungguhnya di saat itulah jaring malam Sabtu sedang diturunkan kembali. Kita mungkin merasa aman karena raga masih berdiri tegak, tangan masih berjari lima, kulit masih mulus tanpa bulu kusam. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa ruh belum lama membungkuk? Siapa yang berani memastikan bahwa hati belum berubah menjadi sesuatu yang lebih hina dari sekadar kera?

Bukankah kera yang sesungguhnya adalah jiwa yang tahu kebenaran namun memilih mempermainkannya? Yang melihat batas lalu sibuk mencari celah? Yang mendengar peringatan lalu menutup jendela dan berkata: 'Itu bukan urusanku.' Para penasihat di kampung nelayan itu tidak selamat karena mereka suci. Mereka selamat karena mereka bersuara.

Mereka selamat karena ketika ditanya kelak di hadapan Arsy: 'Mengapa engkau diam?' mereka memiliki jawaban. Dan kaum yang diam, Al-Quran tidak menyebut nasib mereka secara gamblang. Sebagian ulama mengatakan mereka ikut binasa, sebagian lain berkata mereka diselamatkan tapi dengan rasa malu yang fana. Satu hal yang pasti, diam di hadapan kemungkaran adalah risiko yang tak seorang pun mampu menanggung sendirian di akhirat kelak.

Mereka yang berusaha memperdayai Allah pada akhirnya akan terperosok ke dalam tipu dayanya sendiri. Bukan karena Allah lengah, tapi karena jaring yang dipasang untuk menjerat rezeki haram, cepat atau lambat akan menjerat leher si pemasangnya. Kisah ini telah selesai tapi cermin itu masih tergantung.

Ia menunggu siapapun yang berani menatapnya tanpa berkedip dan bertanya pada diri sendiri: 'Jaring apakah yang sedang aku turunkan untuk mengelabui akal sehat dengan logika sampah?' Semoga Allah melindungi hati dari logika kita yang tanpa sadar merajut kesalahan menjadi tampak indah.