Anak Pendiam Sering Disalahpahami, Ini yang Mereka Rasakan

anak kecil
Sumber :
  • https://pixabay.com/

Olret – Anak lebih sering diam, jarang memulai percakapan, atau memilih duduk sendiri ketika ada banyak orang. Melihat hal seperti ini, orang dewasa mungkin langsung berpikir anak tersebut pemalu, tidak percaya diri, atau sulit bergaul.

img_title 5 Kalimat Orang Tua yang Terlihat Biasa Tapi Bisa Membuat Anak Takut Bercerita

Anak yang pendiam tetap bisa punya banyak hal di dalam pikirannya. Hanya saja, mereka mungkin membutuhkan cara dan waktu yang berbeda untuk menunjukkannya. Bahkan, semakin sering anak diberi label sebagai anak pemalu atau pendiam, mereka bisa semakin merasa bahwa dirinya memang seperti itu.

Lantas, apa yang sebenarnya mungkin dirasakan anak?

img_title 5 Perubahan Kecil yang Sering Terjadi Saat Seseorang Mulai Jatuh Cinta

Mereka butuh waktu untuk merasa aman

Tidak semua anak bisa langsung nyaman berada di lingkungan baru. Ada yang mudah menyapa orang lain, sementara sebagian anak lebih suka mengamati terlebih dahulu.

img_title Sering Jalan Mondar-Mandir Saat Sedang Berpikir? Ini yang Terjadi

Mereka mungkin sedang memperhatikan siapa saja yang ada di sekitarnya, bagaimana suasananya, dan apakah lingkungan tersebut terasa aman bagi mereka.

Setelah mulai nyaman, anak seperti ini bisa saja berubah menjadi lebih aktif dan banyak bicara. Jadi, diam ketika bertemu orang baru tidak selalu berarti anak tidak mampu bersosialisasi.

Mereka takut jawabannya salah

Anak bisa memilih diam ketika merasa takut melakukan kesalahan. Terutama jika sebelumnya mereka pernah ditertawakan, dimarahi, atau dianggap tidak tahu apa-apa ketika mencoba menjawab.

Lama-kelamaan, anak dapat belajar bahwa tidak menjawab terasa lebih aman daripada mengambil risiko salah.

Karena itu, respons orang tua ketika anak melakukan kesalahan sangat penting. Memberikan kesempatan untuk mencoba dan memperbaiki kesalahan dapat membantu anak merasa lebih aman dalam mengungkapkan pikirannya.

Mereka belum bisa menjelaskan perasaannya

Anak tidak selalu punya kosakata yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Mereka bisa merasa kecewa, takut, malu, bingung, atau marah, tetapi belum tahu bagaimana mengungkapkannya. Akhirnya, yang terlihat dari luar hanya diam.

Daripada terus mendesak anak untuk segera bercerita, orang tua bisa membantu dengan mengenalkan berbagai emosi dan memberi contoh cara mengungkapkannya. Dengan begitu, anak perlahan belajar memahami dirinya sendiri.

Halaman Selanjutnya
img_title