Menavigasi "Information Overload" dan Jerat Su'udzon di Era Digital

Perilaku di Media Sosial yang Merusak Hubungan
Sumber :
  • freepik.com

Kode Keamanan Otomatis WhatsApp

Photo :
  • freepik.com

img_title Mengelola Stres Saat Hidup dengan Kanker Paru-Paru EGFR-Positif

Media sosial memiliki anomali yang menakutkan: ia mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Kita mungkin sering mendapati kontradiksi nyata pada karakter seseorang saat berada di dunia nyata versus dunia maya.

"Berapa banyak teman kita yang ketika ketemu langsung baik-baik saja, tapi di grup WhatsApp tingkah lakunya seperti monster yang mengerikan? Tidak seperti yang kita kenal ketika bertemu langsung," ungkap Habib Jafar

img_title Kerjaan Tidak Banyak, Tapi Kok Capek Banget? Ini yang Mungkin Sedang Terjadi

Akar dari konflik digital ini sering kali bersumber dari satu hal: dhon atau dugaan yang mengarah pada su'udzon (prasangka buruk). Meskipun dalam konteks tertentu dugaan diperlukan untuk kewaspadaan, namun sebagian besar dugaan yang tidak berdasar di media sosial justru berujung pada dosa dan kebencian.

Interaksi tekstual yang minim nada bicara dan ekspresi juga memperparah situasi ini. Konsep ini diamini oleh lawan bicaranya yang menceritakan pengalaman personalnya yang kerap terjebak overthinking akibat pesan teks yang singkat.

img_title Kenapa Suara Kecil Tiba-Tiba Terasa Mengganggu Saat Lagi Capek? Bisa Jadi Ini Alasannya

"Ketika aku nge-chat sama orang tua secara sederhana, terus bahasa orang tuaku kayak cuek, aku langsung mikir: 'Apa aku salah ngomong ya? Apa mereka baper?' Padahal kita belum tahu apa yang terjadi. Bisa jadi memang mereka lagi mager aja untuk mengetik," akunya.

Seni Memilih Satu Alasan Baik demi Kesehatan Mental

Ilustrasi kesehatan mental yang bahagia

Photo :
  • https://www.pexels.com/@olly

Menghadapi racun prasangka ini, para ulama dan pemikir Islam terdahulu telah memberikan penawar yang luar biasa. Mengutip ajaran Imam Ghazali hingga Sayidina Jafar Shadiq (cicit Nabi Muhammad SAW), narasumber menekankan pentingnya memperbanyak prasangka baik (husnudzon).

"Jika kamu memiliki 99 alasan untuk berprasangka buruk dan hanya satu alasan untuk berprasangka baik, maka pilih satu alasan untuk berprasangka baik itu," tuturnya menyampaikan pesan ekologis spiritual tersebut.

Bahkan, jika kita benar-benar kehabisan alasan untuk berprasangka baik, langkah terbaik adalah menurunkan ego dan menyadari keterbatasan diri. "Sadarilah bahwa ada informasi-informasi yang mungkin kamu tidak tahu tentang dia, yang kalau kamu tahu, itu akan membuat kamu berprasangka baik. Dan ini bukan tentang dia utamanya, tapi tentang kesehatan mental, spiritual, bahkan fisik kita sendiri."

Halaman Selanjutnya
img_title