Menavigasi "Information Overload" dan Jerat Su'udzon di Era Digital
- freepik.com
Jiwa yang Mengendalikan Fisik: Belajar dari Ibnu Sina
Ilustrasi orang berjiwa tangguh
- Pexels/Kaique Rocha
Hubungan antara pikiran, prasangka, dan kesehatan fisik bukanlah hal yang mengada-ada. Dalam realitas medis, sering kali kita melihat seseorang yang kondisi fisiknya langsung menurun drastis (drop) justru sesaat setelah mendengar vonis penyakitnya. Yang membunuh mereka sering kali bukan penyakit fisik itu sendiri, melainkan runtuhnya ketahanan mental.
Narasumber kemudian mengutip teori jiwa dari filsuf dan tabib legendaris, Ibnu Sina (Avicenna), yang sempat viral saat pandemi COVID-19 lalu. Ibnu Sina pernah menyatakan bahwa 50% dari penyakit itu bersumber dari pikiran kita.
Untuk membuktikannya, Ibnu Sina memberikan sebuah analogi yang sangat relevan dengan fenomena overthinking dan kecemasan masa kini:
"Kalau Anda tidak percaya pada jiwa, maka bandingkan diri Anda ketika berjalan di atas satu bilah kayu ketika diletakkan di lantai, dan ketika kayu itu diletakkan di antara dua gedung di lantai 17. Jalanmu akan berbeda. Di lantai kita biasa saja, tapi di atas gedung tinggi kita akan gemetaran, terpeleset, lalu jatuh."
Kayu yang dilewati sama, kemampuan fisik yang dimiliki sama, namun respons tubuhnya berbeda total. Mengapa? Karena jiwa dan pikiran kita dikuasai oleh bayangan ketakutan.
"Itulah jiwa. Jiwa itu yang sering kita lupakan, tidak kita perhatikan, tidak kita kendalikan, dan akhirnya dia merusak hingga fisik kita melalui kecemasan dan overthinking," jelasnya.
Solusi Sederhana: Letakkan Gawai, Peluk Saudaramu
Lantas, bagaimana kita keluar dari lingkaran setan digital ini? Jawabannya ternyata tidak muluk-muluk, melainkan sebuah tindakan organik yang mulai langka di era modern: Silaturahmi fisik.
Silaturahmi sejati adalah obat penawar untuk menggugurkan segala bentuk dugaan dan kecurigaan yang dibangun oleh algoritma media sosial.
"Kuncinya sekarang adalah silaturahmi untuk menggugurkan dugaan-dugaan itu. Letakkan HP-mu, datangi saudaramu, tetanggamu, temanmu. Berceritalah, berpelukan, menangislah, tertawalah," pesan narasumber di akhir wawancara.
Dunia di dalam layar gawai terlalu banyak menyita waktu kita. Ia menyajikan ilusi realitas yang jika tidak disikapi dengan bijak, bukan hanya membuat hidup kita berakhir sia-sia, tetapi juga menjadi tempat yang berbahaya bagi kedamaian jiwa kita sendiri.