7 Kalimat yang Sebaiknya Dihindari Saat Anak Sedang Menangis

Ilustrasi anak tantrum
Sumber :
  • https://www.pexels.com/@ekaterina-bolovtsova

Olret – Tangisan adalah cara pertama anak berkomunikasi. Saat masih kecil, mereka belum mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan dengan kata-kata. Karena itulah, menangis menjadi cara untuk menunjukkan rasa sedih, kecewa, takut, lelah, atau bahkan kewalahan.

img_title Buat Kamu Yang Pingin Jadi Menantu Idaman. Coba Terapkan 5 Cara Ini

Sayangnya, tanpa disadari orang tua terkadang mengucapkan kalimat yang justru membuat anak merasa tidak dipahami. Alih-alih menenangkan, respons tersebut bisa membuat emosi anak semakin memuncak.

Agar si kecil merasa lebih aman dan didengar, berikut beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari saat anak sedang menangis.

img_title 5 Kalimat Sederhana yang Membantu Anak Lebih Percaya Diri

1. Sudah, jangan nangis

Kalimat ini memang sering diucapkan dengan niat menenangkan. Namun, bagi anak, kalimat tersebut bisa terdengar seperti larangan untuk mengekspresikan perasaannya.

img_title Kenapa Anak Lebih Rewel Saat Bersama Ibunya? Ini Penjelasannya

Menangis adalah respons emosional yang normal. Daripada langsung meminta anak berhenti menangis, cobalah beri waktu beberapa saat agar emosinya mereda terlebih dahulu.

2. Nangis terus, nanti jelek

Mengaitkan tangisan dengan penampilan dapat membuat anak belajar bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang memalukan.

Lama-kelamaan, anak bisa terbiasa memendam perasaannya karena takut dinilai buruk oleh orang lain. Padahal, kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis.

3. Anak hebat tidak cengeng

Kalimat ini terdengar seperti motivasi, tetapi sebenarnya memberi label negatif pada anak yang sedang sedih.

Akibatnya, anak mungkin merasa bersalah karena menangis. Padahal, keberanian bukan berarti tidak pernah menangis, melainkan mampu menghadapi dan mengelola perasaan dengan baik.

4. Mama jadi marah kalau kamu nangis

Kalimat ini tanpa sadar membuat anak bertanggung jawab atas emosi orang tuanya.

Anak bisa merasa bahwa menangis adalah penyebab kemarahan orang tua. Akibatnya, ia mungkin belajar menyembunyikan emosinya daripada mencari bantuan saat sedang kesulitan.

5. Cuma begitu saja kok nangis

Hal yang terlihat sepele bagi orang dewasa belum tentu terasa ringan bagi anak. Mainan rusak, es krim jatuh, atau kalah bermain bisa terasa sangat besar di dunia mereka.

Meremehkan penyebab tangisan membuat anak merasa emosinya tidak dianggap penting.

6. Lihat tuh, temanmu saja tidak nangis

Membandingkan anak dengan orang lain jarang memberikan hasil yang baik.

Halaman Selanjutnya
img_title