Cerita Horor : Wajah yang Membuatku Menyesal Telah Dilahirkan
- Gemini Ai
Olret – Malam itu menyimpan aura yang tak biasa. Rembulan yang menggantung di cakrawala tak lagi tampak sebagai pelindung, melainkan mata perak raksasa yang mengawasi dalam diam. Di bawah sinarnya yang pucat, desau aliran sungai dan jeritan serangga malam tak lagi bersahutan, mereka melebur menjadi satu simfoni ganjil yang menyayat keheningan.
Biasanya, aku memuja kesunyian. Bagiku, malam adalah pelukan lembut yang menenangkan jiwa. Namun kali ini, kelembutan itu menguap, berganti dengan cekaman dingin yang merayap di balik tengkuk.
Di balik cadar malam yang tampak tenang ini, aku dipaksa berhadapan dengan sebuah anomali—kejadian di luar nalar yang melucuti logikaku hingga telanjang. Rasa ngeri itu bangkit, jauh lebih mencekam daripada deretan sinema horor Thailand yang selama ini menjadi candu dan pemuas adrenalin ku.
Sebab malam ini, aku tersadar dengan cara yang paling brutal: kengerian di layar kaca hanyalah dongeng pengantar tidur. Realitas yang kini mencengkeramku jauh lebih pekat.
Di sini, di titik nadir ketakutanku, aku akhirnya mengimani sebuah kebenaran yang tak terelakkan; bahwa dalam napas yang kita hirup, kita sejatinya sedang berbagi ruang dengan mereka yang tak kasat mata—makhluk-makhluk yang menetap di antara bayang-bayang dan kegelapan yang abadi.
Awalnya Aku Tak Yakin, Apakah Ini Benar-Benar Nyata..
Hingga detik ini, aku masih mempertanyakan batas antara kewarasan dan halusinasi. Namun, ketika dunia mendadak bungkam—seolah alam semesta menahan napas dalam kengerian—aku tahu ini nyata. Kesunyian itu pecah oleh lolongan anjing yang menyayat pekatnya malam, sebuah melodi kematian yang mengonfirmasi bahwa maut baru saja mengetuk pintu realitasku.
Lalu, ia muncul.
Seekor makhluk yang anatominya menghina hukum alam; perpaduan grotesk antara anjing dan ayam yang mustahil digambarkan dengan kata-kata. Namun, wajahnyalah yang paling terkutuk. Sepasang mata dan gurat wajah yang begitu menjijikkan hingga aku merasa menyesal telah dilahirkan hanya untuk menyaksikannya. Seumur hidupku, bayangan wajah itu akan menjadi parasit yang menggerogoti setiap mimpiku.
Belum sempat akal sehatku memproses pemandangan itu, bau busuk yang menyengat—aroma daging busuk yang berbaur dengan belerang—menghantam indra penciumanku hingga aku tersedak muntah. Seluruh sarafku berontak.