Apakah Insomnia Mematikan? Para Ahli Belum Yakin
- https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
Olret – Tinjauan terhadap berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa insomnia mungkin tidak meningkatkan risiko kematian Anda, namun pakar tidur lainnya tidak sependapat dengan temuan tersebut.
Hal terakhir yang dibutuhkan penderita insomnia adalah tambahan beban pikiran saat mereka mencemaskan apakah mereka bisa tidur malam ini atau tidak.
Jika situasi ini menggambarkan kondisi Anda, ada baiknya Anda membaca informasi ini lebih awal pada hari ini.
Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa insomnia tidak meningkatkan risiko kematian. Namun, sejumlah ahli tidur tidak sependapat dengan temuan tersebut.
Para peneliti mengumpulkan data dari 17 studi terdahulu untuk melakukan analisis meta. Secara keseluruhan, studi-studi tersebut mencakup hampir 37 juta orang di mana sekitar 10 persen di antaranya menderita insomnia.
Studi-studi tersebut memantau partisipan dalam rentang waktu antara 2,2 hingga 28 tahun, dengan rata-rata masa pemantauan selama 11,6 tahun.
Para peneliti menemukan bahwa risiko kematian selama periode studi tersebut serupa antara orang yang mengalami gejala insomnia dan mereka yang tidak.
Akan tetapi, satu studi menyumbang 96 persen dari total data tersebut. Ketika studi ini tidak disertakan dalam analisis, risiko kematian pada penderita insomnia menjadi sedikit lebih tinggi.
Hasil serupa tetap diperoleh meskipun para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain seperti konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, obesitas, dan penggunaan obat tidur.
Insomnia Dapat Menyebabkan Kematian Dini
Dr. Sairam Parthasarathy, seorang spesialis tidur di University of Arizona College of Medicine, merupakan salah satu penulis studi yang disertakan dalam meta-analisis tersebut.
Ia menyatakan bahwa menurutnya, analisis tersebut bukanlah "representasi yang adil" atas data dari studinya yang diterbitkan pada tahun 2015 di The American Journal of Medicine.
Studi tersebut menemukan bahwa orang dengan insomnia persisten yang berlangsung selama enam tahun atau lebih memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat penyakit kardiovaskular, penyakit paru-paru, maupun penyebab lainnya, dibandingkan dengan orang yang tidak menderita insomnia.
Studi tersebut melibatkan 1.409 partisipan dan memantau mereka selama 20 tahun.
Berbeda dengan meta-analisis tersebut, studi Parthasarathy meneliti seberapa lama partisipan bertahan hidup; metode ini dikenal sebagai analisis kelangsungan hidup (survivorship) atau analisis time-to-event (waktu hingga terjadinya suatu peristiwa). Dalam hal ini, peristiwa yang dimaksud adalah kematian.