Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?

Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang
Sumber :
  • youtube

Lautan di sana mulai membisu. Setiap kali mereka menebar jala di hari biasa, laut seolah pelit. Ikan menjauh, perut mulai lapar, dan kesabaran mulai menipis. Hingga suatu pagi, suasana berubah. Sebuah keajaiban datang, namun ia tidak membawa berkah, ia membawa fitnah.

img_title Iran: Jejak Perubahan Sang Sekutu Menjadi Musuh Bebuyutan

Laut yang biasanya kikir tiba-tiba meledak dalam kehidupan. Fajar belum sempurna merekah ketika suara itu terdengar. Bukan debur ombak biasa, melainkan suara air yang menggelembung oleh gerak. Para nelayan menyaksikan pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.

Ikan-ikan muncul berdesakan melompat-lompat ke udara seolah menggoda perahu-perahu yang sedang tertambat rapat. Sisik-sisik mereka menangkap cahaya pagi berkilauan seperti koin perak yang berhamburan. Anehnya, fenomena ini hanya terjadi di hari Sabtu, tepat di hari tangan mereka diharamkan untuk menyentuh air.

img_title Media Iran Mengkonfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan momen ini dalam Al-Quran: 'Ketika datang kepada mereka ikan-ikan pada hari Sabtu terapung-apung di permukaan air, dan pada hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.' (Quran Surah Al-A'raf ayat 163). Allah berfirman: 'Kami menguji mereka.' Ini bukan siklus alam, ini adalah panggung yang dipasang oleh sang sutradara semesta untuk melihat siapa yang bertahan di atas prinsip dan siapa yang jatuh ke dalam lumpur keinginannya sendiri.

Di tepi pantai, hati manusia mulai terbelah. Ada yang menangis karena menyadari ini adalah jebakan yang dibungkus keindahan. Mereka berbisik lirih: 'Ya Allah, selamatkanlah kami dari hari ini.' Namun bagi mereka yang hatinya mulai retak, mata mereka tidak lagi melihat ujian.

img_title Kehidupan Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran: Tekad Untuk Menghadapi AS Hingga Akhir

Mereka melihat harta bersisik nan menggoda. Hari Jumat sepi, hari Ahad hampa. Hanya di hari Sabtu laut berubah menjadi perjamuan agung yang terlarang. Ikan-ikan itu seolah berbisik di telinga mereka yang lapar: 'Kami di sini hanya hari ini, ambillah.' Dan di titik inilah sebuah pertanyaan licik mulai merayap dari bibir-bibir yang gemetar: 'Bagaimana jika kita tidak menangkapnya hari ini tapi hanya mempersiapkan jalannya?'

Halaman Selanjutnya
img_title