Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?
- youtube
Allah Subhanahu wa Ta'ala menutup kisah ini dengan sebuah ayat yang menggantung di langit sejarah, abadi dan tak lapuk dimakan zaman: 'Maka Kami jadikan yang demikian itu sebagai peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.' (Quran Surah Al-Baqarah ayat 66).
Kisah Ashabus Sabt bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah cermin tanpa rupa yang dipasang oleh Sang Pencipta di sepanjang lorong waktu dan zaman. Cermin yang tidak menampilkan wajah melainkan menampilkan isi dada. Hari ini, di pesisir Teluk Aqaba, laut masih berdebur dengan tenang. Angin masih menyapu pasir yang sama, perahu-perahu nelayan masih berlalu lalang seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Tapi bagi siapapun yang mendengar dan membaca kisah ini dengan mata hati, pesisir itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ia berbisik, ia memperingatkan, ia bertanya: 'Apa yang berubah dari manusia sejak ribuan tahun lalu?'
Ikan-ikan Sabtu mungkin tak lagi muncul di permukaan air di hari yang diharamkan. Tapi bukankah godaan itu kini menjelma dalam bentuk yang lain? Sebuah notifikasi di layar ponsel: 'Pinjaman cepat bunga ringan, cukup KTP.' Sebuah akad yang dibungkus istilah asing: 'Biaya administrasi, bukan bunga.'
Sebuah timbangan digital yang diatur ulang: 'Hanya selisih beberapa gram, ah tidak terasa, tidak ada yang tahu.' Setiap kali lisan berbisik: 'Aku kan tidak langsung melakukannya, aku hanya membantu prosesnya saja.' Sesungguhnya di saat itulah jaring malam Sabtu sedang diturunkan kembali. Kita mungkin merasa aman karena raga masih berdiri tegak, tangan masih berjari lima, kulit masih mulus tanpa bulu kusam. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa ruh belum lama membungkuk? Siapa yang berani memastikan bahwa hati belum berubah menjadi sesuatu yang lebih hina dari sekadar kera?
Bukankah kera yang sesungguhnya adalah jiwa yang tahu kebenaran namun memilih mempermainkannya? Yang melihat batas lalu sibuk mencari celah? Yang mendengar peringatan lalu menutup jendela dan berkata: 'Itu bukan urusanku.' Para penasihat di kampung nelayan itu tidak selamat karena mereka suci. Mereka selamat karena mereka bersuara.