Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?
- youtube
Jemari telah memendek menjadi cakar yang kasar. Kulit yang dulu dibasuh air kini ditumbuhi bulu kusam yang menjijikkan. Postur tubuh membungkuk seolah beban dosa telah meremukkan tulang punggung hingga penderitanya harus merangkak. Mata-mata itu kosong.
Tidak ada lagi akal di sana, hanya insting binatang yang baru lahir dari para kera. Para penasihat mulai bertanya-tanya mengenali sosok-sosok di depannya: 'Bukankah itu paman yang dulu mengajariku menambal jala? Oh tidak, itu adalah tetangga yang sering berbagi roti.' Yang lain berkata: 'Itu adalah saudara yang tertawa bersamaku di malam-malam panjang.' Ketika nama-nama itu dipanggil dengan air mata yang mengalir, yang keluar dari kerongkongan makhluk-makhluk itu hanyalah erangan pilu.
Binatang tidak bisa lagi menjawab, sedangkan mata-mata itu tetap kosong. Tapi erangan pilu kini berpadu dengan isak tangis seluruh penduduk kampung. Tangis yang tahu bahwa di dalam raga binatang itu terpenjara jiwa-jiwa yang mereka cintai. Penyesalan perlahan mulai bergerak di antara jari-jemari berbulu dan hati yang luluh lantak.
Sebuah bahasa bisu yang hanya bisa diterjemahkan dan diungkapkan dengan air mata. Riwayat menyebutkan wujud hina itu hanya bertahan tiga hari. Tiga hari mereka merangkak di antara rumah-rumah yang dulu menjadi saksi logika busuk. Tiga hari menjadi tontonan semesta, peringatan berjalan bagi siapapun yang menyaksikan. Lalu mati tanpa keturunan, tanpa pusara yang dikenang, hilang ditelan bumi yang sama yang dulu menyaksikan jaring-jaring terlarang diturunkan.
Muncul sebuah pertanyaan yang menghantui sejarah: Apakah ini kutukan yang tiba-tiba jatuh dari langit ataukah ini sekadar cermin jiwa yang akhirnya disingkapkan? Bukankah selama ini perilaku penduduk itu sudah menyerupai kera? Rakus mengambil apa yang bukan haknya, meniru-niru kebenaran dengan tipu daya, dan kehilangan rasa malu.
Allah tidak menciptakan sesuatu yang baru di pagi itu, Dia hanya menyingkap tirai jati diri yang selama ini tersembunyi di dalam dada. Raga yang membungkuk adalah potret roh yang telah lama merangkak. Lolongan itu adalah suara hati yang telah lama membisu dari kebenaran. Fajar itu menjadi saksi bahwa kehancuran sebuah peradaban dimulai ketika manusia merasa lebih cerdik daripada penciptanya. Dan pelajaran itu kini menggantung di cakrawala sejarah menunggu siapa yang berani menatapnya tanpa berkedip.