Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?

Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang
Sumber :
  • youtube

Namun para penasihat menjawab dengan kalimat yang menjadi warisan bagi seluruh umat hingga hari kiamat: 'Agar kami memiliki alasan di hadapan Tuhanmu dan mudah-mudahan mereka bertakwa.' Suara kebenaran tidak berhenti bukan hanya demi menyelamatkan para pendosa. Penasihat itu bersuara untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari satu pertanyaan yang kelak mengguncang langit: 'Mengapa engkau diam ketika kemungkaran terjadi di depan matamu?'

img_title Video Perjalanan Tek Tok Gunung Andong, Salah Milih Jalur Tak Bertemu Pendaki Lain

Kini tiga wajah telah menampakkan diri. Para pelaku yang tertawa, para penasihat yang berteriak, dan para pendiam yang menutup jendela. Malam terus berjalan, bulan berganti. Ikan-ikan Sabtu masih muncul dalam kelimpahan yang sama. Malam itu pesta masih berlangsung. Ikan-ikan yang katanya hasil kecerdikan tersaji di atas meja.

Dagingnya yang putih mengepulkan uap ke udara dingin. Gelak tawa membelah malam berbaur dengan denting koin dan kunyahan rakus manusia. Di sudut-sudut rumah, anak-anak tertidur dengan perut kenyang.

img_title Memahami Klasifikasi Hukum

Kenyang oleh sesuatu yang selama ini diharamkan. Dan jauh di sana, lisan Daud Alaihissalam telah menggetarkan langit dengan doa yang berat untuk jiwa-jiwa yang telah melampaui batas dengan kepala tegak dan dada membusung. Langit kini hanya menunggu waktu. Belum ada yang menyadari bahwa fajar terakhir bagi kampung nelayan itu akan segera tiba.

Seiring berjalannya waktu, langit mengamini. Surah Al-Baqarah ayat 65 dan Al-A'raf ayat 166 merekam keputusan yang tak dapat diganggu gugat: 'Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: 'Jadilah kalian kera yang hina.' (Quran Surah Al-A'raf ayat 166). Fajar pun menyingsing, namun matahari terbit dengan cahaya yang ganjil, redup kelabu seolah ikut menahan malu atas apa yang akan disaksikannya.

img_title Iran Klaim Telah Menargetkan Pangkalan Udara AS

Para penasihat yang selamat, kelompok yang telah memisahkan diri dan tinggal di bukit-bukit sekitar, mulai melangkah turun menuju perkampungan. Langkah kaki terasa berat, ada sesuatu yang mencekam di udara pagi itu. Tidak ada suara manusia, tidak ada asap dapur yang mengepul.

Tidak ada tawa anak-anak yang biasanya berlarian di pasir. Hanya ada lolongan panjang yang memekikkan telinga. Lolongan yang bukan berasal dari tenggorokan manusia. Satu per satu pintu rumah didorong. Dan apa yang tersingkap di baliknya bukan lagi wajah-wajah yang dikenal.

Halaman Selanjutnya
img_title