Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?

Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang
Sumber :
  • youtube

Manusia adalah makhluk yang mahir merasionalisasi dosa. Ketika keinginan membesar dan rasa takut mengecil, akal tidak lagi berfungsi untuk memahami perintah. Ia berubah menjadi alat untuk membungkus larangan agar tampak masuk akal, agar tampak indah. Malam Sabtu tiba, bulan menggantung rendah di atas teluk.

img_title Video Perjalanan Tek Tok Gunung Andong, Salah Milih Jalur Tak Bertemu Pendaki Lain

Ombak nyaris tak bersuara, udara dingin menusuk tulang. Di atas pasir yang basah, bayang-bayang mulai bergerak dalam sunyi. Bukan perompak, hanya nelayan. Wajah-wajah yang sama yang dulu berdiri khusyuk di hari Sabtu, kini di bawah selimut malam jaring-jaring yang seharusnya terlipat rapi mulai diturunkan ke air.

Dari kegelapan itu, sebuah bisikan menyebar dari celah-celah jiwa yang telah dimasuki setan: 'Siapa bilang kita melanggar? Kita pasang sekarang, hari Sabtu kita diam tidak menyentuh apapun, hari Ahad pagi kita pungut hasilnya. Malam ini kita hanya mempersiapkannya saja.'

img_title Memahami Klasifikasi Hukum

Dengarkan baik-baik kalimat itu. Terdengar polos, hampir seperti logika yang jujur. Tapi racun selalu dibungkus madu. Di sepanjang pesisir, kolam-kolam perangkap mulai digali. Jaring dibentangkan sebelum fajar Sabtu menyingsing, lalu sepanjang hari yang diharamkan, rumah-rumah sunyi.

Tidak ada yang menyentuh air, tidak ada yang mengangkat jala. Sementara itu di bawah permukaan, ikan-ikan yang muncul dalam kelimpahan terlarang mulai terperangkap, meronta, menggelepar, tapi tidak satu tangan pun menyentuh. Secara teknis, aturan tak dilanggar. Inilah logika busuk yang berselimut syariat.

img_title Iran Klaim Telah Menargetkan Pangkalan Udara AS

Hari Ahad menjelma. Pantai yang kemarin lengang kini riuh oleh pasar. Ikan segar bertumpuk di keranjang. Timbangan sibuk bekerja. Koin-koin berdenting jatuh ke kantong kulit. Gelak tawa kemenangan menggema di sudut-sudut lorong. Rasanya seperti menaklukkan sistem.

Seperti menemukan celah dalam hukum Tuhan. Sebuah loophole suci yang membuat kaya tanpa perlu merasa berdosa. Orang-orang mulai menyebut si pelaku pertama pintar, cerdik, tajam. Mereka yang semula ragu kini ikut menurunkan jaring di malam Sabtu berikutnya. Kecemburuan lebih menular daripada wabah. Padahal apa yang terjadi di pesisir itu persis seperti peringatan Rasulullah SAW berabad-abad kemudian: 'Janganlah kalian melakukan seperti yang dilakukan kaum Yahudi sehingga kalian menghalalkan apa yang diharamkan Allah dengan tipu daya yang paling ringan.'

Halaman Selanjutnya
img_title