Cermin Jiwa yang Membungkuk: Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang?

Mengapa Kaum Ashabus Sabt Dikunci dalam Raga Binatang
Sumber :
  • youtube

Jaring yang diturunkan malam itu tidak sedang menjerat ikan, ia menjerat murka. Dan di kedalaman langit, di keheningan Al-Quds yang jauh di utara, doa Nabi Daud Alaihissalam mulai terangkai dan bergerak. Tapi telinga-telinga di pesisir belum mendengarnya. Mereka masih sibuk menghitung koin, masih sibuk mencuci jaring dari lumut dosa yang dikira tak pernah ada. Tak seorang pun menyadari bahwa jaring itu tidak hanya memerangkap ikan, ia memerangkap jiwa-jiwa yang memasangnya.

img_title Iran: Jejak Perubahan Sang Sekutu Menjadi Musuh Bebuyutan

Sebuah komunitas jarang runtuh hanya karena tangan-tangan yang berbuat maksiat. Ia runtuh karena diamnya orang-orang baik. Di kampung nelayan itu, dosa tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan terang-terangan di pasar, mengepulkan asap dari wajan penggorengan, dan berdenting dalam kantung-kantung koin yang berpindah tangan. Di tengah riuh rendah itulah Al-Quran merekam sebuah perpecahan yang tak terelakkan. Surah Al-A'raf ayat 164 mengabadikan tiga wajah dari satu tanah yang sama.

Wajah pertama: para pelaku. Tangan-tangan yang basah oleh air laut di hari terlarang, rumah-rumah yang sesak oleh tumpukan ikan haram, mulut-mulut yang penuh tawa dan kunyahan. Kekayaan datang begitu cepat, begitu memabukkan. Hingga suara nasihat dianggap tak lebih dari lalat yang hinggap di atas hidangan pesta. Cukup diusir dengan kibasan tangan lalu diacuhkan. Gumam nelayan di sela transaksi: 'Kami tidak melanggar apapun. Ini namanya cerdik bukan dosa. Dasar bodoh.'

img_title Media Iran Mengkonfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei

Wajah kedua: para penasihat. Inilah sisa-sisa keimanan yang masih menyala di tengah badai. Langkah kaki terus menyusuri lorong pasar. Suara lantang mencoba menembus gemerincing koin dan desis minyak panas: 'Celakalah kalian! Jangan memperdaya Allah. Jaring yang kalian pasang bukan menjerat ikan, ia menjerat jiwa kalian sendiri. Apakah kalian lupa dengan larangan pada hari Sabtu itu?' Tapi siapa yang mendengar? Pasar terlalu bising, perut terlalu kenyang, hati terlalu keras. Suara kebenaran ini dianggap pengganggu suasana, sebuah nada sumbang di tengah orkestra kemakmuran.

Wajah ketiga: kaum yang memilih diam. Inilah kelompok yang paling berbahaya. Sosok-sosok ini tidak ikut memancing, tidak ikut menjual. Mungkin rukuk dan sujudnya masih terjaga di sudut rumah. Namun mulut terkunci rapat. Jendela ditutup, mata memalingkan diri. Ketika para penasihat berjalan lelah dari pintu ke pintu, suara lain justru datang dari kelompok ini. Bukan untuk mendukung perjuangan melainkan untuk meredam: 'Mengapa kalian menasihati kaum yang akan dibinasakan?' Sebuah pertanyaan yang lahir dari keputusasaan atau mungkin kemalasan. Kelompok ini memandang para pelaku maksiat justru menyerah: 'Sudah terlambat, mereka pasti binasa. Buang-buang waktu saja.'

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Kehidupan Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran: Tekad Untuk Menghadapi AS Hingga Akhir