Pertahankan Kewarasan Diri Ala Ilmu Stoikisme, Cocok Buat Overthinker
- pinterest.com
Olret – Belakangan ini, nama Aldi Taher sering wara-wiri di media sosial dengan berbagai jargon spontan yang nyeleneh, salah satunya kalimat “semua burger milik Allah”. Sekilas terdengar absurd, tapi kalau dipikir-pikir, ada satu benang merah menarik tentang menerima sesuatu dengan cara yang ringan dan tidak terlalu dibawa serius. Nah, di sinilah konsep stoikisme jadi relevan.
Stoikisme sendiri adalah aliran filsafat kuno yang mengajarkan cara menjaga ketenangan batin di tengah situasi yang tidak pasti. Bukan berarti jadi cuek atau tidak peduli, tapi lebih ke tahu mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak.
Fokus Pada Hal Yang Bisa Kamu Kontrol
Salah satu inti dari Stoicism adalah membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak. Kita tidak bisa mengontrol omongan orang, kondisi ekonomi, atau bahkan hal-hal random yang terjadi di luar rencana.
Tapi kita selalu punya kendali atas respon diri sendiri. Mau marah, santai, atau malah menertawakan situasi itu pilihan kita. Dalam konteks ini, gaya santai ala Aldi Taher bisa dilihat sebagai cara “melepas” hal-hal di luar kendali dengan cara unik.
Jangan Terlalu Serius, Hidup Bukan Lomba Tegang-tegangan
Kadang yang bikin stres bukan masalahnya, tapi cara kita meresponsnya. Stoikisme mengajarkan untuk tidak membesar-besarkan hal yang sebenarnya kecil.
Kalau ada hal yang bikin kesal, coba tarik napas dan tanya, “Ini akan penting nggak 5 tahun lagi?” Kalau jawabannya tidak, mungkin memang nggak perlu dipikirin terlalu dalam.
Sikap santai dan spontan seperti yang sering ditunjukkan Aldi Taher bisa jadi pengingat bahwa hidup juga butuh ditertawakan, bukan cuma dipikirkan.
Latih Diri Untuk Menerima Kenyataan
Stoikisme juga menekankan pentingnya menerima realita, bukan terus-terusan berharap semuanya berjalan sesuai keinginan.
Dalam hidup, pasti ada momen yang tidak sesuai ekspektasi. Alih-alih menolak atau terus mengeluh, pendekatan stoik mengajak kita untuk bilang, “ya sudah, ini bagian dari hidup”.
Penerimaan ini bukan tanda menyerah, tapi justru langkah awal untuk tetap waras dan bisa berpikir jernih.