Apa Itu Keracunan Protein? Berikut Penjelasannya
- https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
Olret – Keracunan protein yang juga dikenal sebagai rabbit starvation terjadi ketika seseorang mengonsumsi protein secara berlebihan tanpa asupan lemak atau karbohidrat yang memadai dalam jangka waktu lama.
Kondisi ini menyebabkan penumpukan amonia, urea, dan asam amino di dalam darah.
Gejalanya dapat berupa rasa lapar yang ekstrem, kelelahan, mual, sakit kepala, perubahan suasana hati, tubuh terasa lemah, dan diare. Meskipun jarang terjadi, keracunan protein bisa berakibat fatal jika tidak ditangani.
Penanganannya melibatkan peningkatan asupan lemak dan karbohidrat sembari mengurangi konsumsi protein hingga ke tingkat yang disarankan.
Sebagian besar diet tinggi protein, seperti diet Atkins dan paleo, tetap menyertakan lemak dan karbohidrat, sehingga risiko terjadinya keracunan protein tergolong kecil.
Protein adalah salah satu dari tiga zat gizi makro bersama dengan lemak dan karbohidrat yang penting bagi fungsi optimal tubuh Anda.
Kondisi keracunan protein terjadi jika Anda mengonsumsi terlalu banyak protein tanpa asupan lemak atau karbohidrat yang memadai dalam jangka waktu yang lama.
Kondisi ini terkadang disebut sebagai "rabbit starvation" (kelaparan akibat makan daging kelinci), sebuah istilah yang telah ada sejak hampir 100 tahun lalu untuk menggambarkan rasa sangat tidak enak badan dan kelaparan akibat hanya mengonsumsi protein yang sangat rendah lemak, seperti daging kelinci tanpa nutrisi lainnya.
Meskipun keracunan protein sangat jarang terjadi, kondisi ini merupakan komplikasi kesehatan yang perlu diwaspadai, mengingat diet tinggi protein kini semakin populer dan sering digadang-gadang sebagai pola makan sehat yang "optimal".
Simak terus artikel ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kemungkinan penyebab dan gejala keracunan protein, serta cara menanganinya.
Apa Saja Gejala Kelebihan Protein?
Keracunan protein dapat menyebabkan berbagai gejala, antara lain:
- rasa lapar yang ekstrem.
- kelelahan.
- mual.
- muntah.
- sakit kepala.
- perubahan suasana hati.
- kelemahan.
- diare.
- denyut jantung lambat.
Hati dan ginjal memegang peranan penting dalam metabolisme protein. Konsumsi berlebihan dapat membuat tubuh berisiko mengalami peningkatan kadar amonia, urea, dan asam amino dalam darah.
Meskipun sangat jarang terjadi, keracunan protein bisa berakibat fatal akibat peningkatan kadar zat-zat tersebut. Sebuah tinjauan tahun 2025 menemukan adanya laporan kematian yang terjadi 2 hingga 3 minggu setelah seseorang mengalami gejala keracunan protein, seperti mual dan diare.