Benarkah Pemanis Rendah Kalori Pengaruhi Daya Ingat? Ini Kata Studi

Ilustrasi pemanis buatan
Sumber :
  • Pexels/Erik Mclean

Olret – Beberapa tahun belakangan, orang-orang mulai sadar akan gaya hidup sehat. Kini, orang-orang mulai menerapkan gaya hidup sehat seperti rajin berolahraga, menghindari junk food, dan membatasi konsumsi gula. Bahkan, sebagian orang mulai mengganti gula pasir dengan pemanis nol kalori.

img_title 4 Pengobatan Rumahan yang Didukung oleh Sains, Apa Saja?

Akan tetapi, konsumsi pemanis pengganti gula yang populer ini dikaitkan dengan penurunan daya ingat. Selain itu, menurut penelitian terbaru yang dikutip dari laman The Hill pada Selasa (21/7/2026), penggunaan pemanis pengganti gula disebutkan dapat menyebabkan penurunan daya berpikir yang lebih cepat.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh American Academy of Neurology menemukan adanya hubungan antara konsumsi pemanis dan penurunan fungsi kognitif.

img_title 5 Cara Efektif Mengatasi Keinginan Kuat untuk Makan

"Pemanis rendah kalori sering dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan dengan gula. Namun, temuan kami menunjukkan bahwa beberapa jenis pemanis mungkin memiliki dampak negatif terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang," ujar Dr. Claudia Kimie Suemoto dari University of São Paulo.

Para peneliti tersebut menganalisis data dari hampir 13.000 orang dewasa dan meneliti tujuh jenis pemanis, seperti aspartam, sakarin, acesulfame K, eritritol, xylitol, sorbitol, dan tagatosa. Menurut penelitian tersebut, pemanis-pemanis yang telah disebutkan merupakan pemanis yang mengandung sedikit atau bahkan tanpa kalori.

img_title 7 Cara Menghentikan Keinginan Kuat Mengonsumsi Makanan Tidak Sehat dan Gula

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi pemanis dalam jumlah lebih tinggi mengalami laju penurunan fungsi kognitif 62% lebih cepat. Hubungan antara konsumsi pemanis dan percepatan penuaan otak terlihat lebih jelas pada peserta yang menderita diabetes.

Sementara itu, peserta yang berada dalam kelompok dengan tingkat konsumsi pemanis sedang mengalami penurunan fungsi kognitif sebesar 35% lebih cepat dibandingkan mereka yang berada dalam kelompok dengan konsumsi paling rendah. Untuk mengukur perubahan tersebut, para peserta menjalani tes kemampuan kognitif pada awal, pertengahan, dan akhir masa penelitian.

"Meskipun kami menemukan hubungan antara konsumsi pemanis dan penurunan fungsi kognitif pada kelompok orang dewasa, baik yang memiliki diabetes maupun tidak, orang yang memiliki riwayat diabetes cenderung sering menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula," tambah Suemoto.

Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa pemanis buatan banyak ditambahkan ke makanan dan minuman ultra-processed. Selain itu, pemanis buatan juga banyak dijual dalam bentuk terpisah untuk digunakan sebagai pemanis pada kopi, teh, serta dalam berbagai masakan dapur dan kue olahan.

Halaman Selanjutnya
img_title