Kardiomiopati Akibat Stres: Gejala dan Pengobatan
- https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
Sebuah tinjauan penelitian tahun 2019 menunjukkan bahwa pemicu fisik lebih sering terjadi dibandingkan pemicu emosional.
Episode stres akut dapat menyebabkan lonjakan hormon stres hingga ke tingkat yang sangat tinggi di dalam tubuh. Dalam kondisi normal, hormon-hormon ini membantu Anda menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Namun, jika kadar adrenalin dan zat kimia lain, seperti katekolamin yang beredar di tubuh menjadi terlalu tinggi, sejumlah perubahan yang berpotensi membahayakan dapat terjadi.
Arteri-arteri kecil di dalam jantung dapat menyempit, sehingga membatasi aliran darah ke otot jantung. Hormon dapat berikatan dengan sel-sel jantung, yang memicu penumpukan kalsium secara cepat dan mengurangi efisiensi kerja pemompaan jantung.
Apa Saja Gejalanya
Gejala kardiomiopati akibat stres dapat muncul dalam beberapa menit atau jam setelah peristiwa yang memicu stres. Gejala tersebut juga bisa muncul belakangan terutama yang berkaitan dengan pemicu emosional seiring Anda memproses berbagai faktor pemicu stres dalam hidup Anda.
Beberapa gejala yang paling umum meliputi:
- nyeri dada yang bisa muncul secara tiba-tiba dan terasa hebat.
- pusing atau rasa melayang (kepala terasa ringan).
- jantung berdebar kencang.
- sesak napas.
- berkeringat tanpa sebab yang jelas (bisa terasa seperti keringat dingin).
Bagaimana Cara Mendiagnosis Kardiomiopati Akibat Stres
Kardiomiopati akibat stres sering kali menyerupai sindrom koroner akut (SKA). SKA mengacu pada penurunan aliran darah secara tiba-tiba menuju otot jantung. SKA dapat berupa serangan jantung atau angina (nyeri dada).
Untuk membedakan kardiomiopati akibat stres dari SKA, tenaga medis dapat melakukan beberapa pemeriksaan dan tes pencitraan. Di antaranya adalah:
- tes darah untuk memeriksa kadar kolesterol, glukosa, dan protein tertentu yang dapat mengindikasikan serangan jantung atau masalah jantung lainnya.
- foto Rontgen dada.
- angiografi koroner, yang menggunakan prosedur kateterisasi jantung untuk mengukur aliran darah melalui jantung.
- ekokardiogram.
- elektrokardiogram.
- MRI.
Dokter juga akan meninjau riwayat medis serta gejala lain yang Anda alami, termasuk stres emosional serta perasaan depresi dan kecemasan.
Jika terdapat kemungkinan pemicu fisik atau emosional, pastikan untuk menyampaikan informasi tersebut kepada tenaga medis yang melakukan diagnosis.