5 Mitos tentang Puasa dan Frekuensi Makan

Mitos tentang puasa dan frekuensi makan
Sumber :
  • https://images.ctfassets.net/

Olret – Puasa kini semakin umum dilakukan. Bahkan, intermittent fasting yaitu pola makan yang berganti-ganti antara periode puasa dan makan, sering kali dipromosikan sebagai metode diet ajaib.

img_title Menyingkap Rahasia Panjang Umur Warga Okinawa di Balik Secangkir Teh Pare

Namun, tidak semua hal yang Anda dengar mengenai frekuensi makan dan kesehatan itu benar. Berikut adalah 5 mitos seputar puasa dan frekuensi makan.

1. Melewatkan sarapan membuat tubuh gemuk

img_title Efek Samping Verzenio: Hal-hal yang Perlu Diketahui

Salah satu anggapan umum yang masih bertahan adalah bahwa sarapan merupakan waktu makan terpenting dalam sehari.

Banyak orang percaya bahwa melewatkan sarapan akan menyebabkan rasa lapar berlebihan, keinginan kuat untuk makan, dan kenaikan berat badan.

img_title Cara Mengonsumsi Camilan Saat Menonton Pertandingan Olahraga Sembari Berupaya Menurunkan Berat Badan

Sebuah studi selama 16 minggu yang melibatkan 283 orang dewasa dengan kelebihan berat badan dan obesitas mendapati tidak adanya perbedaan berat badan antara mereka yang sarapan dan mereka yang tidak.

Dengan demikian, sarapan tidak terlalu memengaruhi berat badan Anda, meskipun mungkin terdapat variasi pada setiap individu. 

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang yang berhasil menurunkan berat badan dalam jangka panjang cenderung menyempatkan diri untuk sarapan.

Terlebih lagi, anak-anak dan remaja yang sarapan cenderung memiliki performa yang lebih baik di sekolah. 

Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kebutuhan spesifik Anda. Sarapan bermanfaat bagi sebagian orang, sementara yang lain bisa melewatkannya tanpa dampak negatif apa pun.

2. Makan sering bisa meningkatkan metabolisme Anda

Banyak orang percaya bahwa makan lebih sering dapat meningkatkan laju metabolisme, sehingga tubuh membakar lebih banyak kalori secara keseluruhan.

Tubuh memang menggunakan sejumlah kalori untuk mencerna makanan. Hal ini disebut sebagai efek termik makanan (TEF).

Rata-rata, TEF menggunakan sekitar 10 persen dari total asupan kalori Anda. Namun, yang terpenting adalah jumlah total kalori yang Anda konsumsi, bukan berapa kali Anda makan.

Makan enam kali dengan masing-masing 500 kalori memberikan efek yang sama dengan makan tiga kali dengan masing-masing 1.000 kalori. Dengan asumsi rata-rata TEF sebesar 10 persen, Anda akan membakar 300 kalori dalam kedua skenario tersebut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan atau mengurangi frekuensi makan tidak memengaruhi total kalori yang dibakar.

3. Makan sering membantu mengurangi rasa lapar

Sebagian orang meyakini bahwa makan secara berkala dapat membantu mencegah keinginan kuat untuk makan (cravings) dan rasa lapar yang berlebihan. Namun, bukti yang ada menunjukkan hasil yang beragam.

Meskipun beberapa penelitian mengindikasikan bahwa makan lebih sering dapat mengurangi rasa lapar, penelitian lain justru tidak menemukan adanya pengaruh atau bahkan mendapati peningkatan tingkat rasa lapar.

Sebuah penelitian yang membandingkan konsumsi tiga atau enam kali makan tinggi protein per hari menemukan bahwa makan tiga kali lebih efektif dalam mengurangi rasa lapar.

Meski demikian, respons tubuh bisa berbeda-beda pada setiap orang. Jika makan lebih sering dapat mengurangi keinginan Anda untuk makan, hal itu mungkin merupakan langkah yang baik. 

Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mengemil atau makan lebih sering dapat mengurangi rasa lapar pada semua orang.

4. Makan lebih sering bisa membantu tubuh menurunkan berat badan

Karena makan lebih sering tidak meningkatkan metabolisme, hal tersebut juga tidak berpengaruh terhadap penurunan berat badan.

Sebuah studi yang melibatkan 16 orang dewasa dengan obesitas memang membandingkan efek makan 3 kali dan 6 kali sehari, dan menemukan tidak adanya perbedaan dalam berat badan, penurunan lemak, maupun nafsu makan.

Sebagian orang berpendapat bahwa makan terlalu sering membuat mereka sulit menjalani pola makan sehat. 

Namun, jika Anda merasa bahwa makan lebih sering justru memudahkan Anda untuk mengonsumsi lebih sedikit kalori dan mengurangi makanan tidak sehat, silakan lanjutkan kebiasaan tersebut.

5. Otak Anda membutuhkan pasokan glukosa yang teratur dari makanan

Sebagian orang berpendapat bahwa jika Anda tidak mengonsumsi karbohidrat setiap beberapa jam, otak Anda akan berhenti berfungsi.

Anggapan ini didasarkan pada keyakinan bahwa otak hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi.

Namun, tubuh Anda sebenarnya dapat dengan mudah memproduksi glukosa yang dibutuhkannya melalui proses yang disebut glukoneogenesis.

Bahkan saat menjalani puasa jangka panjang, kelaparan, atau diet sangat rendah karbohidrat, tubuh Anda dapat memproduksi badan keton dari lemak makanan.

Badan keton dapat menjadi sumber energi bagi sebagian otak Anda, sehingga mengurangi kebutuhan glukosanya secara signifikan.

Namun, sebagian orang melaporkan merasa lemas atau gemetar saat tidak makan dalam jangka waktu tertentu. Jika Anda mengalami hal ini, sebaiknya Anda selalu menyediakan camilan atau makan lebih sering.

Jadi itulah lima mitos tentang puasa dan frekuensi makan. Kelima mitos tentang puasa dan frekuensi makan tersebut dapat terbantahkan karena fakta ilmiah.