Mematahkan 5 Mitos Kesehatan yang Paling Umum
- https://d1vbn70lmn1nqe.cloudfront.net/prod/
Olret – Kita cenderung memercayai berbagai mitos lama seputar kesehatan, nutrisi, kebugaran, dan hal-hal lainnya. Memahami fakta yang sebenarnya sangatlah penting untuk membantu kita menjalani hidup yang paling sehat.
Pernahkah Anda mempertanyakan kebenaran suatu nasihat kesehatan yang sudah lama Anda yakini? Anda mungkin akan terkejut saat mengetahui mana yang sekadar mitos dan mana yang merupakan fakta.
Mitos kesehatan biasanya tidak bermaksud buruk. Mitos-mitos tersebut mungkin muncul pada masa ketika pemahaman kita tentang cara kerja tubuh manusia masih terbatas, sehingga dianggap sebagai pendekatan terbaik pada saat itu.
Namun, kita terkadang masih memegang teguh sebagian di antaranya, bahkan setelah sains menunjukkan jalan yang lebih baik.
Mari kita luruskan berbagai anggapan keliru tersebut dan membahas lima mitos kesehatan yang paling awet dan masih banyak dipercaya hingga saat ini.
1. Benarkah Anda sebaiknya minum 8 gelas air sehari
Aturan lama "8 x 8" (minum air sebanyak 8 ons—sekitar 240 ml—sebanyak 8 kali sehari) bisa menjadi cara praktis untuk memenuhi kebutuhan hidrasi Anda.
Jumlah ini setara dengan sekitar setengah galon (2 liter) per hari. Namun, tidak ada dasar ilmiah yang mendukung takaran tersebut.
Faktanya, kebutuhan hidrasi setiap orang berbeda-beda. Jumlah air yang Anda butuhkan bergantung pada beberapa faktor, termasuk usia, berat badan, jenis kelamin, dan suhu udara.
Para ahli memperkirakan bahwa rata-rata pria berusia 19 hingga 30 tahun membutuhkan sekitar 3,7 liter air per hari, sedangkan wanita pada rentang usia yang sama membutuhkan 2,7 liter per hari.
Namun, perlu diingat bahwa sebagian dari asupan air tersebut diperoleh dari makanan yang Anda konsumsi.
2. Apakah keluar rumah saat cuaca dingin bisa membuat sakit
Pilek dan flu lebih sering terjadi pada musim dingin, namun udara dingin bukanlah penyebab penyakit tersebut. Kumanlah yang membuat Anda sakit.
Virus seperti influenza, SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19), dan rhinovirus (penyebab pilek) lebih bertahan lama dalam cuaca dingin dan kering. Cuaca dingin juga melemahkan sistem kekebalan tubuh kita.
Hal ini, ditambah dengan perilaku manusia, seperti lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan yang ramai saat cuaca dingin dan basah memberikan peluang lebih besar bagi virus untuk menyebar.