Menavigasi "Information Overload" dan Jerat Su'udzon di Era Digital
- freepik.com
Olret – Di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan otak manusia untuk mencernanya, kita sering kali terjebak dalam apa yang disebut sebagai information overload.
Ironisnya, alih-alih mencerdaskan, limpahan informasi ini justru kerap menjadi pemicu stres, kecemasan, hingga keretakan sosial. Media sosial yang sejatinya diciptakan untuk menghubungkan, kini tak jarang berubah wajah menjadi media "asosial".
Dalam sebuah ruang diskusi yang mendalam di Youtube Suara Berkelas antara Bilal Feranov dan Habib Jafar, terungkap sebuah refleksi tajam mengenai bagaimana konsumsi informasi yang tidak terfilter dan hilangnya tabayun (konfirmasi) telah merusak kesehatan mental dan spiritual masyarakat modern.
Jebakan POV Parsial dan Dosa Media Sosial
Sisi Gelap Media Sosial yang Merusak Hubungan
- pexels.com
Sering kali, jempol kita bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan kita. Fenomena viral-judgment atau penghakiman massal di media sosial menjadi bukti nyata betapa rapuhnya cara kita memproses informasi.
"Semakin kita tahu, semakin kita stres. Semakin kita tahu, semakin hancur hidup kita dan semakin kita bermusuhan dengan orang lain yang sebenarnya tidak perlu kita tahu tentang apa yang terjadi dengan mereka," ujar Habib Jafar.
Ia mencontohkan kasus yang baru-baru ini terjadi, di mana seorang bapak-bapak menjadi sasaran hujatan netizen akibat sebuah konten video yang viral. Padahal, publik sama sekali tidak mengetahui sudut pandang (Point of View) dari versi sang bapak, apalagi memahami peristiwa tersebut secara holistik.
Ketidakpastian informasi inilah yang membuat sang narasumber memilih prinsip ketat dalam bermedia sosial. Ia menerapkan disclaimer seumur hidup pada dirinya untuk tidak mengomentari orang atau peristiwa spesifik di kanal pribadinya, termasuk YouTube.
"Kalau saya ngomongin orang itu ghibah dan dosa, kalau ngomongin peristiwa saya enggak tahu detail peristiwanya. Sedikit saja tidak presisi, maka saya berdosa. Karena itu saya lebih memilih ngomongin ide dan gagasan. Kita punya urusan sendiri, ngapain ngurusin urusan orang lain? Kita punya dosa sendiri, kenapa sibuk dengan dosa orang lain?" tegasnya.