5 Mitos tentang Puasa dan Frekuensi Makan
- https://images.ctfassets.net/
3. Makan sering membantu mengurangi rasa lapar
Sebagian orang meyakini bahwa makan secara berkala dapat membantu mencegah keinginan kuat untuk makan (cravings) dan rasa lapar yang berlebihan. Namun, bukti yang ada menunjukkan hasil yang beragam.
Meskipun beberapa penelitian mengindikasikan bahwa makan lebih sering dapat mengurangi rasa lapar, penelitian lain justru tidak menemukan adanya pengaruh atau bahkan mendapati peningkatan tingkat rasa lapar.
Sebuah penelitian yang membandingkan konsumsi tiga atau enam kali makan tinggi protein per hari menemukan bahwa makan tiga kali lebih efektif dalam mengurangi rasa lapar.
Meski demikian, respons tubuh bisa berbeda-beda pada setiap orang. Jika makan lebih sering dapat mengurangi keinginan Anda untuk makan, hal itu mungkin merupakan langkah yang baik.
Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mengemil atau makan lebih sering dapat mengurangi rasa lapar pada semua orang.
4. Makan lebih sering bisa membantu tubuh menurunkan berat badan
Karena makan lebih sering tidak meningkatkan metabolisme, hal tersebut juga tidak berpengaruh terhadap penurunan berat badan.
Sebuah studi yang melibatkan 16 orang dewasa dengan obesitas memang membandingkan efek makan 3 kali dan 6 kali sehari, dan menemukan tidak adanya perbedaan dalam berat badan, penurunan lemak, maupun nafsu makan.
Sebagian orang berpendapat bahwa makan terlalu sering membuat mereka sulit menjalani pola makan sehat.
Namun, jika Anda merasa bahwa makan lebih sering justru memudahkan Anda untuk mengonsumsi lebih sedikit kalori dan mengurangi makanan tidak sehat, silakan lanjutkan kebiasaan tersebut.
5. Otak Anda membutuhkan pasokan glukosa yang teratur dari makanan
Sebagian orang berpendapat bahwa jika Anda tidak mengonsumsi karbohidrat setiap beberapa jam, otak Anda akan berhenti berfungsi.
Anggapan ini didasarkan pada keyakinan bahwa otak hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi.
Namun, tubuh Anda sebenarnya dapat dengan mudah memproduksi glukosa yang dibutuhkannya melalui proses yang disebut glukoneogenesis.
Bahkan saat menjalani puasa jangka panjang, kelaparan, atau diet sangat rendah karbohidrat, tubuh Anda dapat memproduksi badan keton dari lemak makanan.