5 Mitos dan Fakta Seputar Insomnia
- https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
- berfokus pada periode waktu tertentu untuk mendapatkan tidur yang berkualitas (pembatasan tidur).
CBT-I sering kali menjadi pilihan pengobatan utama untuk insomnia. Sebuah meta-analisis tahun 2021 menemukan bahwa CBT-I bekerja, setidaknya sebagian, dengan cara mengubah keyakinan seseorang mengenai tidur. Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I).
Mitos 4: Semua obat untuk insomnia bekerja dengan cara yang sama
Fakta: Setiap golongan obat untuk insomnia bekerja dengan cara yang berbeda untuk membantu Anda tidur.
Terdapat beberapa pilihan obat untuk insomnia. Beberapa di antaranya membantu Anda untuk mulai tertidur, sementara yang lain membantu Anda untuk tetap tertidur. Ada pula yang memiliki kedua fungsi tersebut.
Dokter mempertimbangkan berbagai hal saat merekomendasikan suatu pengobatan, termasuk usia dan jenis kelamin Anda, aspek keamanan, efek samping, interaksi dengan obat lain, serta durasi penggunaan.
Karakteristik obat tersebut juga turut diperhatikan, seperti seberapa cepat obat mulai bekerja dan berapa lama efeknya bertahan.
Obat resep untuk insomnia yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) dan saat ini digunakan meliputi:
- Benzodiazepin: Jenis obat ini dapat menciptakan rasa tenang, relaksasi, dan mengurangi kecemasan, sehingga membantu Anda untuk lebih mudah tidur. Benzodiazepin biasanya hanya diresepkan untuk penggunaan jangka pendek.
- Obat golongan "Z" (Z-drugs): Obat-obatan ini bekerja dengan cara yang serupa dengan benzodiazepin. Obat ini menimbulkan rasa kantuk dengan memperlambat aktivitas otak.
Menurut FDA, obat ini sebaiknya tidak digunakan oleh orang yang memiliki perilaku tidur kompleks, seperti berjalan saat tidur (sleepwalking), karena obat ini justru dapat memicu munculnya perilaku tersebut.
- Agonis reseptor melatonin: Obat resep seperti ramelteon dan tasimelteon ini memengaruhi zat kimia di otak yang mengatur siklus tidur-bangun. Obat ini membantu mengatur ulang jam biologis tubuh Anda. Meskipun banyak orang juga mengonsumsi melatonin untuk membantu tidur, melatonin dikategorikan sebagai suplemen makanan dan tidak diatur oleh FDA.
- Antagonis reseptor orexin: Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat orexin, yaitu zat kimia di otak yang berperan dalam menjaga Anda tetap terjaga.