5 Mitos dan Fakta Seputar Insomnia
- https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
- Antidepresan: Doxepin dalam dosis yang sangat rendah telah disetujui untuk menangani insomnia. Dokter terkadang meresepkan antidepresan jika Anda mengalami depresi yang disertai dengan insomnia.
Anda mungkin juga mempertimbangkan obat tidur yang dijual bebas (tanpa resep dokter). Banyak di antaranya merupakan antihistamin yang dapat menimbulkan rasa kantuk. Beberapa jenis antihistamin justru dapat menyebabkan kegelisahan atau sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome).
Sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat atau suplemen apa pun yang dijual bebas untuk mengatasi insomnia.
Mitos 5: Anda sebaiknya tetap berada di tempat tidur sampai tertidur
Fakta: Berbaring di tempat tidur dalam keadaan terjaga dapat meningkatkan perasaan cemas terkait tidur.
Hal ini juga dapat melatih otak Anda untuk mengaitkan kamar tidur dengan perasaan-perasaan negatif tersebut, yang justru bisa memperburuk insomnia.
Sebisa mungkin, gunakan kamar tidur hanya untuk tidur dan berhubungan seksual. Jika kamar tidur berubah menjadi ruang kerja, otak Anda bisa mulai mengaitkan tempat tidur dengan pekerjaan.
Akibatnya, saat Anda ingin beristirahat, akan lebih sulit untuk menghentikan pikiran yang berkaitan dengan pekerjaan.
Para ahli menyarankan untuk tidak naik ke tempat tidur sampai Anda benar-benar siap untuk tidur. Jika Anda belum bisa tertidur setelah sekitar 20 menit, keluarlah dari tempat tidur.
Cobalah melakukan aktivitas yang menenangkan seperti membaca sesuatu yang santai atau membosankan dengan pencahayaan redup (asalkan bukan melalui perangkat elektronik), melakukan yoga ringan, atau mendengarkan musik sampai Anda merasa mengantuk.
Jadi itulah penjelasan mengenai lima mitos dan fakta seputar insomnia. Insomnia adalah kondisi yang umum terjadi namun dapat diatasi. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang insomnia, Anda dapat lebih memahami sarana yang tersedia untuk mendapatkan istirahat yang lebih baik.