4 Pengobatan Rumahan yang Didukung oleh Sains, Apa Saja?
- https://www.pexels.com/id-id/foto/cangkir-minuman-teh-talenan
Olret – Penelitian menunjukkan bahwa beberapa pengobatan rumahan, termasuk kunyit, jahe, cabai, minyak kayu putih, lavender, dan peppermint dapat membantu meredakan nyeri, peradangan, mual, atau masalah pencernaan.
Fenugreek dapat mendukung produksi ASI untuk menyusui dan membantu mengelola gula darah, sementara jamur shiitake dan makanan kaya magnesium dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.
Meskipun pengobatan ini menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam penelitian, pengobatan ini mungkin tidak efektif untuk semua orang.
Bicaralah dengan profesional kesehatan sebelum menggunakannya secara teratur, terutama jika Anda mengonsumsi obat-obatan atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kemungkinan besar Anda pernah mencoba pengobatan rumahan: teh herbal untuk meredakan pilek, minyak esensial untuk mengurangi sakit kepala, atau suplemen nabati agar tidur lebih nyenyak.
Mungkin Anda mendapat saran dari nenek atau membacanya secara daring. Intinya, Anda pernah mencobanya dan mungkin sekarang Anda berpikir, "Haruskah saya mencobanya lagi?"
Tidak diketahui secara pasti apa yang membuat pengobatan rumahan itu manjur. Apakah itu benar-benar memicu perubahan fisiologis dalam tubuh atau sekadar efek plasebo? Untungnya, dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan telah meneliti hal ini di laboratorium dan menemukan bahwa beberapa pengobatan nabati kita bukan sekadar mitos belaka.
Jadi, bagi Anda yang skeptis dan membutuhkan bukti lebih dari sekadar efek plasebo untuk merasa lebih baik, kami punya jawabannya. Berikut adalah berbagai pengobatan rumahan yang didukung oleh sains.
1. Kunyit untuk nyeri dan peradangan
Kunyit telah digunakan terutama di Asia Selatan sebagai bagian dari pengobatan Ayurveda selama hampir 4.000 tahun.
Terkait manfaat medis yang terbukti, rempah berwarna keemasan ini mungkin paling ampuh untuk meredakan nyeri, khususnya nyeri yang disebabkan oleh peradangan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurkuminlah yang menjadi kunci kehebatan kunyit. Dalam sebuah studi, penderita nyeri akibat artritis melaporkan penurunan tingkat nyeri yang lebih signifikan setelah mengonsumsi 500 miligram (mg) kurkumin dibandingkan dengan 50 mg diklofenak natrium, yaitu obat anti-inflamasi.
Studi lain juga mendukung klaim pereda nyeri ini, dengan hasil yang menunjukkan bahwa ekstrak kunyit sama efektifnya dengan ibuprofen dalam mengatasi nyeri pada pasien osteoartritis lutut.