5 Pengobatan Alternatif untuk Kecemasan, Apa Saja?
- https://www.pexels.com/id-id/foto/sehat-kursi-bangku-alam
Olret – Pola makan seimbang sangat penting untuk mengelola kecemasan. Para ahli menyarankan konsumsi buah-buahan, sayuran, daging tanpa lemak, dan lemak sehat yang cukup, sembari menghindari makanan olahan serta makanan tinggi gula yang dapat memicu gejala kecemasan.
Olahraga teratur, khususnya aktivitas kardiovaskular, dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Bahkan olahraga aerobik selama 5 menit saja sudah dapat mulai memberikan efek pereda kecemasan, dan jalan cepat selama 10 menit dapat memberikan rasa lega selama beberapa jam.
Tidur yang cukup (6–8 jam per malam) sangat krusial untuk mengelola kecemasan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidur dapat membantu menenangkan dan memulihkan kondisi otak yang sedang cemas; selain itu, menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta membatasi penggunaan layar sebelum tidur dapat mendukung kualitas tidur yang lebih baik.
Gangguan kecemasan merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum terjadi di Amerika Serikat.
Diperkirakan sebanyak 40 juta orang dewasa berusia 18 tahun ke atas atau 18 persen dari populasi orang dewasa di negara tersebut mengalami suatu bentuk gangguan kecemasan.
Jika Anda mengalami kecemasan ringan yang tidak memerlukan pengobatan konvensional, Anda bisa mencoba terapi alternatif. Selain itu, dengan persetujuan dokter, Anda juga dapat menggunakan pengobatan alternatif sebagai pelengkap bagi pengobatan konvensional.
Tujuan utama terapi alternatif adalah untuk meningkatkan kesehatan Anda secara umum serta meredakan gejala kecemasan dengan sedikit atau tanpa efek samping. Berikut ini pengobatan alternatif untuk meredakan kecemasan ringan.
1. Batasi asupan kafein
Secangkir kopi di pagi hari mungkin membantu Anda bangkit dari tempat tidur, namun konsumsi berlebihan dapat menyebabkan rasa gelisah dan mengurangi kemampuan Anda dalam mengelola kecemasan dengan baik.
Sebuah tinjauan penelitian tahun 2017 menunjukkan bahwa sebagian orang dapat mengalami kecemasan akibat konsumsi kafein dalam jumlah hanya 200 miligram (mg) per hari. Jumlah ini setara dengan kandungan kafein dalam sekitar dua cangkir kopi.
Sebagian besar studi dalam tinjauan tersebut melibatkan orang-orang yang sedang menjalani perawatan psikiatris atau mereka yang telah memiliki gangguan kecemasan sebelumnya.